UKM Berpotensi Terdampak Gejolak Ekonomi Global

JAKARTA, (iHalal.id) — Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia pada 2019, berpotensi terkena gejolak ekonomi global. Pada tahun itu, perekonomian Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan tetap kuat, sementara pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market atau pasar negara berkembang dan Eropa diperkirakan lebih rendah dari perkiraan awal.

“Ini sesuai dengan proyeksi Bank dunia pada acara Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bali,” kata ekonom BNI yang juga Corporate Secretary BNI Ryan Kiryanto dalam diskusi panel bertajuk “Proyeksi perekonomian, Peluang dan Tantangan bagi UKM”, di Auditorium Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Rabu (7/11/2018). Pembicara lainnya adalah Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi dan Business Development & Sales Officer Du’Anyam Juan Firmansyah.

Ryan mengatakan, jika ekonomi dunia sedikit melemah maka dampaknya ke korporasi skala besar. Selain itu, dampak selanjutnya akan merembet pada korporasi kelas menengah seperti UKM. “Dan di hilir kelas UKM (Usaha Kecil Menengah) suka tidak suka berpotensi terdampak juga,” ujar dia.

Disebutkan, saat terjadi krisis moneter pada 1998 UKM dapat bertahan sebab tidak menggunakan valuta asing (valas) sehingga tidak terpengaruh gejolak ekonomi global. “pada 1998 UKM bagus waktu krismon (krisis moneter) kelompok UKM relatif tidak tersentuh nilai tukar, mereka tidak minjam valas, maka mereka terisolasi dari gejolak global,” ujar Ryan.

Dikatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2018 diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi yang didorong oleh permintaan domestik. Namun, pertumbuhan itu lebih rendah dari perkiraan semula yang diakibatkan penurunan ekspor netto.

Menurut Ryan, kuatnya permintaan domestik mendorong impor. Impor tumbuh tinggi sejalan dengan permintaan domestik, meskipun pertumbuhan impor bulanan telah menunjukkan perlambatan. Sebaliknya, pertumbuhan ekspor lebih terbatas disebabkan kinerja ekspor komoditas andalan, seperti hasil pertanian dan pertambangan yang tidak sekuat perkiraan.

Sementara itu, neraca perdagangan pada Septermber lalu mencatat surplus 0,23 miliar dolar AS, membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit 0,94 miliar dolar AS. Perbaikan tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat dan defisit neraca perdagangan migas yang menurun. “Secara komulatif, neraca perdagangan mencatat defisit 3,78 miliar dolar AS,” ungkap Ryan.

Pada kesempatan itu, Ryan juga memprediksi suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate (7 DRRR) diperkirakan akan naik 25 basis poin atau 0,25% pada akhir tahun ini. Kenaikan ini, kata Ryan, untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed. “Bunga acuan BI 7 DRR rate naik pada Desember 2018 untuk mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate,” kata dia.

Kenaikan bunga The Fed ini, ujar dia, akan didorong oleh meningkatkan inflasi di AS. Sebagai informasi, saat ini inflasi di AS mencapai 2%. Angka inflasi ini cukup krusial bagi negara sebesar AS. Oleh karena itu, diperkirakan The Fed akan berusaha menjinakkan inflasi ini dengan menaikkan suku bunga.

Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral negara berkembang, jelas Ryan, sebaiknya menyesuaikan suku bunga acuannya pada akhir tahun. Hal ini agar risiko usaha dan nilai tukar tidak mengalami tekanan yang berlanjut.

Arah kebijakan BI telah menetapkan bahwa BI 7-Day Reverse Repo Rate tetap 5,75 persen, Suku Bunga Deposit Facillity tetap 5.00 persen, dan Suku Bunga Lending Facillity sebesar 6.50 persen. (Sat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *