Empang Bukan “Arab Town”

Oleh: Abdullah Batarfie*

Belakangan muncul wacana untuk membranding kawasan Empang di Bogor dengan istilah-istilah seperti “Arab Town”, “Little Arab”, atau sebutan lain yang menonjolkan identitas kearaban. Bagi sebagian orang, istilah tersebut mungkin terdengar menarik dari sudut pandang pariwisata. Namun bagi banyak warga Empang, termasuk saya, gagasan itu justru problematis, baik secara historis maupun sosiologis.

Komunitas Japas mengunjungi jejak sejarah Empang, Bogor beberapa waktu lalu. (Foto; dok. JaPas) 

Penolakan terhadap penggunaan istilah-istilah tersebut bukanlah hal baru. Berulang kali aspirasi itu disampaikan oleh warga dalam berbagai forum, baik secara lisan maupun tertulis. Bahkan ketika pemerintah kota menugaskan tim mahasiswa untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD), keberatan tersebut telah disampaikan secara langsung. Sayangnya, suara warga tampaknya belum sepenuhnya menjadi pertimbangan utama.

Masalah pertama adalah soal sejarah. Empang memiliki sejarah yang jauh lebih kaya dan lebih tua daripada sekadar identitas kearaban. Kawasan ini merupakan bagian penting dari perkembangan Kota Bogor, memiliki jejak sebagai eks palagan perjuangan dan pusat pemerintahan lokal pada masa lampau. Mereduksi Empang menjadi “Arab Town” sama saja dengan menyederhanakan sejarah panjang yang sesungguhnya jauh lebih kompleks dan berlapis.

Suasana Masjid Ath-Thohiriyah Empang, Bogor Jawa Barat pasca kemerdekaan tahun 1950-an. (Foto: Batarfie)

Masalah kedua adalah persoalan identitas sosial. Istilah “Arab Town” secara tidak langsung membangun batas simbolik antara warga keturunan Arab dan warga lainnya. Padahal realitas yang hidup di Empang hari ini justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Warga keturunan Arab di Empang telah berabad-abad hidup berdampingan, berbaur, dan menyatu dengan masyarakat setempat.

Dalam tradisi lisan masyarakat Arab-Hadrami sendiri dikenal istilah ahwal, yaitu saudara dari pihak ibu. Istilah ini lahir dari kenyataan sejarah bahwa para pendatang Arab yang datang ke Nusantara hampir seluruhnya tidak membawa istri dari tanah asal mereka. Mereka menikah dengan perempuan-perempuan pribumi setempat, membangun keluarga, dan melahirkan generasi-generasi baru yang merupakan hasil percampuran budaya dan darah.

Siswa Jami’atul Khoer (sering ditulis Jamiat Kheir) cabang Bogor pimpinan Ustadz Hb. Abdul Kadir bin Ahmad Assegaf (Mualim Ading) tengah asyik duduk bersama warga dibelakang Madrasah. Jamiat Kheir adalah salah satu yayasan pendidikan dan organisasi Islam swasta tertua di Indonesia, yang didirikan pada tahun 1901. Organisasi bersejarah ini berpusat di Tanah Abang, Jakarta Pusat, dan sangat berperan sebagai pelopor pendidikan Islam modern serta gerakan kebangkitan nasional sebelum kemerdekaan. (Foto; Dok. Batarfie). 

Karena itu, sesungguhnya sangat sulit berbicara tentang kemurnian identitas Arab di Empang. Yang ada adalah masyarakat yang telah terbentuk melalui proses panjang “kawin-mawin”, asimilasi, dan interaksi sosial selama beberapa generasi. Mereka bukan komunitas yang hidup terpisah dari lingkungan sekitarnya, melainkan bagian organik dari masyarakat Bogor itu sendiri.

Pemberian label “Arab Town” justru berpotensi memunculkan sentimen identitas yang selama ini nyaris tidak relevan dalam kehidupan sehari-hari warga. Sebuah identitas yang telah lama cair dan membumi bisa kembali dibekukan ke dalam kategori-kategori etnis yang sempit. Ini bukan hanya tidak sesuai dengan kenyataan sosial, tetapi juga berisiko menumbuhkan stereotip dan prasangka yang sebenarnya tidak diperlukan.

Jika Empang hendak dipromosikan sebagai kawasan tematik, maka pendekatan yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai pusat religi dan ruang harmoni sosial-keagamaan. Empang merupakan miniatur keberagaman pemikiran Islam yang hidup berdampingan secara damai. Di kawasan ini tumbuh berbagai corak pemikiran keagamaan, mulai dari kelompok yang lebih konservatif hingga modernis, yang selama puluhan tahun membangun kehidupan bersama tanpa konflik berarti.

Masjid Ath-Thohiriyah menjadi simbol penting dari persatuan tersebut. Di tengah berbagai perbedaan pandangan, masjid ini hadir sebagai titik temu yang menghubungkan berbagai kelompok dan tradisi keislaman dalam satu ruang kebersamaan. Nilai inilah yang seharusnya diangkat sebagai kekuatan utama Empang, bukan sekadar romantisme etnis yang menyederhanakan kenyataan.

Demang bersama hoofdpenghoelo (ulama & umaro) berfoto di depan masjid Agung Empang Ath-Thohiriyah. (Foto; dok. Batarfie) 

Kota-kota besar di dunia memang mengenal kawasan-kawasan etnis seperti Chinatown atau Little India. Namun model semacam itu lahir dari komunitas-komunitas yang secara sosial dan spasial masih mempertahankan segregasi yang kuat. Empang tidak demikian. Yang terjadi di Empang adalah asimilasi, bukan segregasi; pembauran, bukan pemisahan.

Karena itu, memaksakan label “Arab Town” kepada Empang bukan saja kurang tepat, tetapi juga berpotensi mengabaikan sejarah, mengerdilkan identitas kawasan, dan mengganggu semangat kebersamaan yang telah tumbuh selama berabad-abad. Empang tidak membutuhkan label etnis untuk menjadi menarik. Sejarahnya, keragamannya, dan harmoni sosial yang hidup di dalamnya sudah cukup menjadi alasan mengapa kawasan ini layak dihargai dan dijaga.

Empang adalah wajah Bogor yang inklusif. Dan justru karena itulah Empang tidak perlu disebut “Arab Town”.

*Penulis adalah koordinator Jalan Pagi Sejarah