by

9 Penghambat kemajuan Diaspora (Muslim) Indonesia: a self criticism.

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Dalam beberapa kesempatan yang ada saya berkali-kali sampaikan kegalauan saya sebagai seorang putra (Muslim) Indonesia di luar negeri. Bukan saja karena kenyataan bahwa warga (Muslim) Indonesia manca negara itu tidak terlalu besar dibanding Komunitas Muslim lainnya. Tapi lebih kepada kurang signifikannya peranan Diaspora (Muslim) Indonesia di kancah internasional.

Padahal kenyataannya Indonesia dikenal oleh dunia luar sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia. Selain itu diakui atau tidak Muslim Indonesia memiliki kelebihan-kelebihan yang dapat menjadi modal dalam upaya mengambil peranan di kancah global. Satu di antaranya adalah kenyataan bahwa Indonesia mampu mengintegrasi antara dua komitmen yang kadang paradoksikal. Yaitu komitmen kebangsaan dan komitmen keagamaan.

Realita minimnya peranan Disapora (Muslim) Indonesia itu berakibat kepada penglihatan warga lain kepada Komunitas (Muslim) Indonesia dengan pandangan sebelah mata. Seolah menjadi sebuah kesimpulan umum bahwa Diaspora (Muslim) Indonesia memiliki kapasitan atau kemampuan yang diragukan. Sehingga dengan sendirinya orang lain kurang “confident” untuk melibatkan (Muslim) Indonesia dalam berbagai perhelatan yang berskala internasional.

Kenyataan di atas harusnya menjadi pendorong bagi Komunitas (Muslim) Indonesia untuk bangkit melakukan berbagai pembenahan diri. Melakukan koreksi terhadap kekurangan (self correction) dan melakukan perbaikan dan pengembangan diri (self development).

Dari pengalaman yang mungkin cukup panjang di luar negeri, (meninggalkan Indonesia sejak tamat pesantren), saya melihat ada beberapa faktor kenapa Komunitas (Muslim) Indonesia di luar negeri kurang maksimal dalam memainkan peranan globalnya secara signifikan.

Pertama, memang diakui bahwa secara umum baik secara kwanktitas maupun kwalitas Komunitas Indonesia memang rata-rata kurang dibanding Komunitas lainnya. Ambillah sebagai contoh Komunitas Bangladesh di Kota New York ada sekitar 100,000 ribuan. Di daerah Astoria, Queens New York ada sekitar 20-an masjid (salah satunya masjid milik warga Indonesia), 14 di antaranya diinisiasi dan dikelolah oleh Komunitas Bangladesh.

Kedua, masalah self confidence. Saya sendiri kurang tahu asal usulnya. Tapi diakui atau tidak ada semacam rasa inferioritàs di kalangan Komunitas (Muslim) Indonesia ketika berinteraksi dengan Komunitas lain. Mungkin ini karena memang realita kekurang mampuan. Atau juga karena memang ada suasana yang telah terbangun secara umum bahwa Komunitas (Muslim) Indonesia itu memang kurang mampu. Terkadang memang ada pembatas tipis (fine line) antara “being humble” (tawadhu) dan rasa inferioritas (rasa minder).

Ketiga, pergaulan yang terbatas. Entah apa penyebabnya seringkali warga Indonesia membatasi diri dengan pergaulan sebatas di antara sesama Indonesia saja. Sangat jarang warga (Muslim) Indonesia yang “go beyond national bound” dalam pergaulan. Ini yang mengakibatkan kurangnya “pengalaman dan informasi” tentang peluang-peluang yang ada di luar Komunitas (Muslim) Indonesia itu sendiri.

Keempat, kemampuan bahasa yang biasanya sangat terbatas. Syukur bahwa saat ini anak-anak muda Indonesia banyak yang kemampuan berbahasa asingnya cukup baik. Tapi secara umum bahasa asing warga Indonesia di luar negeri sangat terbatas. Itupun dalam arti bahasa pasif. Sehingga untuk tampil di publik misalnya sangat terbatas.

Kelima, pasif dalam pengembangan wawasan. Biasanya dari pergaulan akan terbuka pengalaman. Dan pengalaman itulah yang akan banyak membuka wawasan dan meluaskan cakrawala berpikir untuk menangkap hal-hal baru di sekitar kita. Warga (Muslim) Indonesia biasanya puas dengan dengan zona nyaman yang ada. Sehingga cakrawala dan gagasan mereka pun dibatasi oleh zona nyamannya masing-masing.

Keenam, merasa sangat nyaman dengan “comfort zone” (zona nyaman) yang ada. Tentu tidak ada salahnya untuk senang dengan keadaan masa kini kita masing-masing. Tapi jangan sampai membatasi langkah-langkah selanjutnya untuk melakukan perubahan dan pengembangan. Masyarakat (Muslim) Indonesia di luar negeri biasanya merasa puas dengan zonanya. Sehingga ketika situasi tertentu menuntut untuk melakukan perubahan dan pengembangan mereka seolah tak berdaya untuk keluar dari zona nyaman itu.

Ketujuh, Komunitas (Muslim) Indonesia terkadang kalem, nampak seolah damai dan baik-baik saja. Kumpul-kumpul Paguyuban, ragam arisan, dan lain-lain sering dilakukan. Tapi di balik dari semua itu ternyata penuh drama. Satu faktor utama adalah ketidak dewasaan dalam menerima perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka.

Kedelapan, kegalauan dan ketidak menentuan di rantau. Banyak warga Indonesia, Muslim atau non Muslim, di luar negeri tidak menentu apakah akan tinggal selamanya di negara imigrasi atau kembali ke negara asal. Sehingga perencanaan di negara tempat mereka tinggal tidak stabil. Penghasilan yang kadang seadanya ditransfer ke tanah air setiap bulannya. Tapi pada akhirnya karena anak keturunan mereka lahir dan besar di negara imigrasi itu, akhirnya mereka menetap tapi tanpa perencanaan dan persiapan yang matang.

Kesembilan, diperlukan dukungan yang lebih maksimal dari pemerintah Indonesia. Tentu berbicara masyarakat di luar negeri (dikenal dengan kata diaspora) pemerintah yang dimaksud adalah perwakilan-perwakilan pemerintah yang ada. Selama ini dukungan itu sangat baik. Tapi akan lebih baik lagi jika ada inisiasi program-program yang lebih terarah untuk pengembangan diaspora di rantau.

NYC Subway, 29 Desember 2021

* Presiden Nusantara Foundation

Nota:
*Kata “Muslim” between the brackets karena tulisan ini dibuat untuk Komunitas Muslim. Tapi saya teruskan ke umum karena saya yakin teman-teman non Muslim juga mengalami hal yang sama).
*Kesembilan poin itu sangat umum. Jika diperlukan rincian akan dilakukan pada masanya.
*Tulisan ini sebagai “self criticism” atau kritikan kepada diri sendiri. Karena memang saya adalah bagian dari warga Indonesia (Disapora) di luar negeri.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed