by

Belajar di Universitas Kehidupan

Oleh : Idat Mustari*

Kita adalah orang-orang yang sedang belajar di universitas kehidupan.  Buku pelajarannya  adalah segala peristiwa yang terjadi yang dapat kita dengar, lihat dan rasakan. Ada peristiwa yang pemeran utamanya adalah orang yang kita kenal atau tidak. Ada orang yang terdekat bahkan kita sendirilah pemeran utamanya.

Namun sayang kita sering kali hanya sekedar membacanya tapi tak disimpannya dalam memori jiwa. Hingga tak sedikitpun mengambil hikmah sebagai bekal kehidupan sendiri. Peristiwa demi peristiwa  seperti angin lalu. Kalaupun pun ingat hanyalah sebentar tak bermakna.

Allah Azza Wa Jalla bukan saja memberi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar tapi juga hati untuk mengamini. Tapi sayang, seringkali kita tak mempergunakan anugerah itu semua dengan maksimal. Akibatnya, kita kadang salah memaknai sebuah peristiwa.

Ada peristiwa yang mengajari agar kita bisa jadi manusia yang bersyukur tapi tetap saja kita sulit bersyukur. Ada peristiwa yang mengajari agar kita bisa jadi manusia bersabar tapi tetap saja sulit bersabar. Ada peristiwa yang mengajari agar kita bisa jadi manusia tawadhu tapi tetap saja sombong dan angkuh. Ada peristiwa yang mengajari pentingnya sebuah kejujuran dan bahayanya berbohong tapi tetap saja berbohong, dan berbagai pelajaran lainnya untuk memperbaiki diri tapi tetap saja tak berubah-rubah.

Termasuk peristiwa kematian yang bukan hanya sekali kita saksiksan. Bahkan sengaja Allah Swt mengawetkan jasad Fira’un yang telah mati berjuta-juta tahun yang lalu hingga sekarang, agar setiap orang bisa belajar darinya. Pelajaran bahwa tak ada abadi di dunia ini. Pelajaran bahwa drama kehidupan kita tak berakhir disini saja. Masih ada hari esok yang akan meminta pertanggung jawaban atas apa yang telah kita lakukan.

Boleh jadi kita termasuk orang yang tak pernah belajar dengan sunguh-sungguh di universitas kehidupan ini, hingga tak pernah naik tingkat  bahkan gagal. Gagal meraih gelar sarjana kesejatiaan diri.  Gelar bagi manusia yang mampu menjadi dirinya yang asli, serta  mampu mengenali dirinya dan kehidupannya tanpa harus jatuh terhadap kehidupan dunia yang membuatnya tidak mengenali siapa dirinya sendiri.

Di kala malam, diatas hamparan sejadah kita duduk merenung sejenak.  Merenung atas peristiwa diri, sekaligus  memohon kepada Allah Penguasa setiap diri, memberi kemampuan pada kita bisa memperbaiki diri.

*Pengamat Sosial dan Agama, Pengacara, tinggal di Bandung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.