by

Bertemu Mantan Murid Muallaf.

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Salah satu kegiatan harian saya di kota New York saat ini adalah Chaplain di hospital, khususnya di rumah sakit Bellevue. Layanan ini biasa juga disebut dengan “Spiritual Care” (pelayanan spiritual). Khusus di hari Senin saya telah meminta kelonggaran untuk masuk siang.

Berselang saya masuk kantor pagi ini tiba-tiba saja saya mendapat sms (pesan singkat) dari salah seorang petugas chaplaincy (spiritual care) di Palliative Care Department. Palliative care adalah bagian khusus yang menangani pasien yang dianggap tidak lagi tersembuhkan. Pada umumnya untuk sekedar meringankan sakit dan beban pasien secara umum.

“Hey Imam. This is Bob. Can you come to Palliative care office if you have a minute?”, bunyi pesan itu.

Bob adalah staf Chaplain yang khusus ditugasi menangani pasien di Palliative Department. Seorang pastor beraliran Kristen Orthodoks. Tapi Bob sendiri adalah warga negara Amerika keturunan India.

“Hey Bob. Will be with you soon. Is there any urgency?”, tanya saya.

“No. It’s a non urgent request”, jawabnya.

“Will be there in 15 minutes” kata saya singkat.

“Wonderful. See you then” respon Bob.

Sekitar 10 menit kemudian saya naik ke lantai 17 South di rumah sakit Bellevue. Di salah satu ruangan itulah kantor para petugas Palliative yang cukup serius. Saya mengetuk pintu dan Bob pun membuka pintu.

“Thank you Shamsi”, katanya berterima kasih karena saya datang ke kantornya.

“Any time Bob” jawab saya.

Bob pun mempersilahkan saya masuk lalu memanggil seseorang. Saya mendengar nama itu dengan jelas: “Annette” (dibaca Annet).

Dari dalam sebuah kamar keluarlah seorang wanita baya, nampak orang putih (bule). Dan dengan sangat ramah menyambut saya seperti kenal dekat dan bahagia ketemu.

Saya sendiri tidak mengenalnya. Atau mungkin lupa siapa gerangan wanita itu. Yang saya kenal hanya bernama Dr. Annette ….. (saya tidak tuliskan last name untuk privacy) dari mana yang tertulis di baju Dokter yang dia pakai.

“Hey Shamsi. Do you remember me?” tanyanya seolah ingin menjabat bahkan ingin memeluk saya. Tapi karena Covid dan tentunya dia tahu tidak mungkin, diapun hanya memperlihatkan “gesture” tubuh dengan sangat ramah.

Belum saya sempat menjawab, dia meneruskan: “I don’t think you remember or even you know me”.

Saya hanya diam mencoba merenungi siapa gerangan wanita itu? Selain saya tidak ingat, wajahnya juga sepenuhnya saya tidak lihat karena memakai masker.

Dia kembali melanjutkan: “I am Annette. Annette G….(dia menyebut nama lengkapnya). I used to attend your class at the 96th street mosque back in 2004 or 2005”.

“Oh my God. Truly sorry Annette. I really completely forgot”, jawab saya berpura-pura ingat. Padahal saya memang Sudah lupa.

“It’s fine Shamsi. But I am so happy to get connected with you”..katanya .

Dia kemudian menyampaian terima kasih: “I really thank you. You did change my life. And now I am here with you in the same place”.

Saya sebenarnya agak bingung apa Maksudnya. Khususnya ketika mengatakan: “you did change my life”.

Annette pun mengajak saya duduk di ruang Konferensi (conference room) agar tidak mengganggu petugas lainnya. Annette pun bercerita bahwa ada masa ketika itu, sebelum mengikuti kelas Muallaf saya, dia selalu stress bahkan hampir mencapai situasi keputus asaan.

Saya sendiri lupa, apalagi mungkin wajahnya semakin menua karena memang telah sangat lama. Tapi dia sendiri menurutnya tidak pernah melupakan saya dan kelas yang pernah dia ikuti. Waktu itu saya Imam di Islamic Center of New York. Dan saya membuka kelas khusus Muallaf bernama Islamic Forum for non Muslim.

“Sorry Annetted, did you become a Muslim?” Tanya saya dengan pelan agar tidak didengar siapa-siapa.

“No. I did not. But I love Islam”, jawabnya singkat.

“Oh it’s fine. But we have a mosque down on first floor. You may want to join our Friday service one day”..saya ajak dia ke Jumatan biar bisa dengar khutbah.

“Surely one day I will”, jawabnya.

Dia kembali dengan penuh semangat bercerita, seolah memutar ulang memori dia di sekitar tahun 2004 itu.

“I was deeply stressful” (saya sangat stress ketika itu).

Lalu menurutnya lagi dia ingin mencari sesuatu yang ketika itu dia sendiri tidak tahu. Hanya ingin sesuatu untuk meringankan bebannya. Lalu ketemulah alamat Islamic Center yang juga dikenal sebagai the 96th street mosque itu.

“I really like the way you handled each of your student. You paid attention to each one of them”, katanya tentang kelas Muallaf waktu itu.

“Oh thank you” jawab saya singkat.

“And you know what? I am here now. When I left your class I was back to my school. I took medicine…and now I am doctor”…katanya penuh semangat.

“Annette, I am happy for you. But I am happier to meet you again”, Kata saya.

Kami pun harus mengakhiri pertemuan itu. Sekali lagi Anette nampak sangat gembira dengan pertemuan itu. “I am so happy to reconnect”.

Tak lupa dia mengambil nomor cell saya. Dan sesaat setelah berpisah saya menerima pesan singkat dari nomor yang belum terdaftar di HP saya.

Isinya: “Hi Shamsi Ali. This is Annette G. from Palliative Care. Such a pleasure to re-meet you!!! Look forward to seeing you again and working with you at Bellevue”.

Saya harus kembali ke masjid karena waktu Zhuhur telah tiba. Di saat sholat saya menyampaikan rasa syukur kepada Allah bahwa apa yang pernah kita lakukan atau ucapkan hampir 16 tahun lalu ternyata merubah hidup seseorang.

Annette G yang ketika itu stress dan hampir putus asa karena keadaan, tersadarkan dengan motivasi Islam. Saya yakin ketika itu saya memotivasi dia untuk tetap kuat, bersemangat menghadapi apapun tantangan dalam hidup.

Di akhir sholat siang tadi saya doakan secara khusus semoga pertemuan ulang (re-meeting) ini menjadi jalan hidayah bagi Annette. Karena saya sangat yakin, memberi hidaya itu memang adalah hak prerogatif Allah SWT. Saya hanya penyebab semata. Semoga….

Mohon doa untuk Annette!

Bellevue Hospital NYC, 3 Des 2021

  • Muslim Chaplain at Bellevue Hospital

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed