by

DRD DKI Dukung Penerapan PSBB Ketat

JAKARTA (iHalal.id) — Para Menteri dan Pejabat publik di tingkat pusat sebaiknya mendukung keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan yang memberlakukan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara ketat. Sebab Keputusan tersebut selain bertujuan melindungi nyawa manusia, baik warga DKI Jakarta maupun Non Jakarta. Hal ini karena tingkat kematian warga DKI Jakarta dan warga daerah lainnya karena Covid 19 sudah sangat tinggi. Setiap hari ada penambahan ratusan pasien covid 19, di wilayah DKI Jakarta.. Sementara, tenaga Kesehatan yang berguguran karena Covid juga mencapai angka ratusan. Selain itu keputusan gubernur tersebut juga sesuai arahan Presiden Jokowi untuk lebih memprioitaskan perlindungan Kesehatan dan nyawa rakyat Indonesia dari paparan Covid 19 dari pada mendahulukan kepentingan dan pertumbuhan ekonomi.

“Tujuan pemberlakuan PSBB Ketat ini adalah untuk melindungi nyawa dan keselamatan warga Jakarta maupun non Jakarta yang beraktifitas di Jakarta dan sekitarnya dari penularan penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Sekaligus memutus mata rantai penularan. Gubernur, sebagai pemimpin merasa bertanggungjawab atas keselamatan nyawa warganya. sudah seribuan lebih warganya meninggal dunia karena Covid. Belum lagi ratusan tenaga Kesehatan. Harusnya semua pihak termasuk para pejabat di pemerintah pusat mendukung dan mensukseskannya. Apalagi kebijakan dan keputusan Gubernur tersebut sesuai garis besar kebijakan Presiden Jokowi serta sudah melalui kordinasi dengan pemerintah pusat, “papar pengamat kebijakan publik yang juga anggota Dewan Riset Daerah (DRD ) DKI Jakarta Eman Sulaeman Nasim, kepada pers Senin (14/9) di Jakarta.

Menurut Eman S Nasim, tidak pantas bila pejabat publik setingkat Menteri mengkritik kebijakan gubernur sebagai kepala daerah secara terbuka dan disebarluaskan di media massa. Hal ini selain membuat gaduh juga membingungkan masyarakat. Seharusnya, pihak Menteri bisa mengajak gubernur duduk bersama, berdiskusi menanyakan alasan mengapa PSBB Ketat dikeluarkan. Sebaliknya pihak pejabat publik itu juga dapat menyampaikan keberatan keberatan beserta alasan yang masuk akal kepada gubernur.

“Gubernur DKI Jakarta ini doktor lulusan perguruan tinggi ternama di Amerika Serikat, , demokratis dan moderat. Sangat menerima perbedaan pendapat. Beliau sebelum mengambil keputusan selalu dipikirkan masak masak dampaknya. Selain itu menerima masukan masukan dari masyarakat luas. Apalagi dari seorang pemimpin dan pejabat publik setingkat menteri. Kalau masukan masukan itu disampaikan secara baik, pasti akan diterima dengan baik. Jadi alangkah baiknya, jika sesama pejabat publik melakukan kordinasi dan berdiskusi apabila ada perbedaan pendapat dan kebijakan. Jangan langsung disampaikan ke publik lewat media massa sehingga menjadi polemik dan membingungkan masyarakat,” papar mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Indonesia atau BEM UI ini.

Lebih lanjut Dosen Kebijakan Publik di Institut STIAMI ini menjelaskan, diterapkannya PSBB lebih ketat dari pada PSBB Transisi, karena warga masyarakat sangat tidak disiplin dalam menegakkan protokol Kesehatan 3 M. Memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Akibat ketidak disiplinan ini, angka penularan menjadi tinggi. Jumlah warga yang tertular dan terinfeksi Covid menjadi semakin tinggi. Harsunya, jika kedisiplinan warga dalam menerapkan protocol Kesehatan sangat kendor, ini menjadi tanggungjawab bersama. Aparat keamanan segera menggelar operasi untuk memberikan efek jera kepada warga masyarakat agar segera disiplin menerapkan protokol Kesehatan. Penegakan disiplin bukan hanya tanggungjawab Satuan Polisi Pamong Praja. Tapi juga seluruh apparat.

“Pemberlakuan kembali PSBB yang lebih ketat ini, adalah salah satu upaya dari Gubernur untuk Kembali mendisiplinkan warga agar menerapkan protokol Kesehatan. Saat PSBB Transisi kemarin, kita lihat phenomena yang terjadi, masyarakat susah diajak pake masker…susah dilarang berkumpul….sebagian besar masyarakat menganggap, wabah Covid 19 sudah berlalu…padahal jumlah warga yang terinfeksi Covid 19 makin banyak. Tujuan pemberlakuan PSBB ini adalah untuk menyelamatkan kita semua…menyelamatkan nyawa warga agar tidak makin banyak yang jadi korban keganasan Virus Corona,” tegas anggota dewan penasehat ILUNI UI ini.

Eman Sulaeman Nasim berpendapat resesi ekonomi yang disebabkan oleh pendemic covid 19 ini, penyelesaiannya adalah terlebih dahulu menghentikan penyebaran dan penularan Covid 19. Dengan demikian, perlindungan nyawa dan keselamatan manusia atau warga menjadi. Dengan sendirinya, jika warga atau manusianya sudah sehat, terbebas dari Covid 19 maka pertumbuhan ekonomi akan Kembali berjalan. Namun jika manusia sebagai subjek pertumbuhan ekonomi nya terpapar bahkan keselamatannya terancam, bukan pertumbuhan ekonomi yang terjadi tapi krisis ekonomi yang mengerikan yang akan terjadi.

Menurut Sekretaris Komisi I DRD DKI Jakarta ini, pihaknya mendukung kebijakan Gubernur DKI Jakarta memberlakukan PSBB ketat ini. Dia berharap Pemberlakuan PSBB ini dapat berdampak positip, benar benar menghentikan rantai penyebaran atau penularan Covid, melindungi sekaligus mengurangi jumlah warga yang terpapar atau terinfeksi. Sehingga tidak perlu lagi diterapkan PSBB lanjutan. Selanjutnya, selagi vaksin dan Obat pencegah dan penyembuh penyakit Covid 19 belum ditemukan, aparat penegak hukum baik kepolisian, maupun Satpol PP bisa menegakan disiplin seluruh warga untuk menerapkan protokol Kesehatan. Warga yang bandel tidak menerapkan protocol Kesehatan diberikan sangsi yang dapat menimbulkan efek jera..

DRD DKI Mengkaji

Sedangkan DRD DKI Jakarta sendiri, terus melakukan pemantauan dan pengkajian atas penyebaran Covid 19 di DKI Jakarta. DRD DKI Jakarta juga sudah menyelesaikan pembangunan grha sehat untuk pasien Covid 19 yang berlokasi di GOR Pademangan Jakarta Utara dan sudah diresmikan pemanfaatannya oleh wakil gubernu DKI Jakarta Ahmad Riza beberapa waktu lalu. Selain itu DRD DKI juga melakukan pemantauan dan pengkajian atas berbagai fenomena yang terjadi di Jakarta. Hasil kajian dan masukan dari DRD DKI Jakarta atas berbagai problema yang terjadi di Jakarta, secara rutin diminta maupun tidak diminta disampaikan ke pihak Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

“Seharusnya, setiap 3 bulan sekali DRD DKI Jakarta melakukan pertemuan tatap muka atau daring dengan Bapak Gubernur menyampaikan pendapat dan hasil kajian serta usulan usulan para pakar yang tergabung di DRD DKI Jakarta. Namun karena kesibukan dua pemimpin Jakarta tersebut, pertemuannya dimundur menjadi setiap 6 bulan sekali. Namun jika ada hal hal yang mendesak, DRD DKI Jakarta mengadakan pertemuan atau kordinasi dengan Kepala atau wakil Kepala BAPEDA DKI Jakarta,” papar Eman Sulaeman Nasim. (Sat)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed