by

Edukasi Mindset dan Gaya Hidup Halal

Oleh: Irfan Syauqi Beik*

Gaya hidup halal (halal lifestyle) saat ini menjadi tren yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan ini didasarkan pada kesadaran relijiusitas masyarakat yang terus tumbuh setiap tahunnya, sehingga permintaan akan produk halal, baik produk halal di sektor riil, produk keuangan halal, maupun penunaian kewajiban sosial dalam bentuk ZISWAF (zakat, infak, sedekah dan wakaf), terus mengalami peningkatan yang signifikan. Meskipun pandemi covid-19 menurut State of the Global Islamic Economy Report 2020/21 telah memberikan tekanan pada perekonomian halal global hingga mengalami penurunan sampai 8 persen di 2020, khususnya pada sektor riil syariah, namun pada tahun ini diperkirakan kondisinya akan kembali pulih dan meningkat.

Yang menarik, kondisi penurunan pada perekonomian halal (sektor riil syariah) yang terjadi secara global dampaknya relatif lebih rendah di Indonesia, dimana industri halal kita mengalami kontraksi 1,7 persen di tahun 2020, lebih rendah dari kontraksi perekonomian nasional yang mencapai angka 2,1 persen. Bahkan untuk sektor keuangan syariah (halal finance) dan sektor ZISWAF, yang terjadi justru tren peningkatan secara nasional. Misalnya, OJK menyebutkan bahwa per Desember 2020 total aset keuangan syariah (minus saham syariah) telah menembus angka Rp 1.802 triliun, atau tumbuh sebesar 22,79 persen year-on-year (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara di sektor ekonomi keuangan sosial syariah, BAZNAS menyampaikan bahwa penghimpunan zakat di masa pandemi 2020 mengalami kenaikan 30 persen. Tren positif ini mengisyaratkan bahwa ada ruang dan peluang bagi Indonesia untuk dapat memanfaatkannya lagi secara lebih optimal melalui berbagai upaya yang terintegrasi antar para pemangku kepentingan strategis perekonomian halal di negeri ini. Demikian pula dengan wakaf yang menurut BWI juga mengalami tren peningkatan di tengah pandemi.

Untuk itulah, diperlukan berbagai upaya secara masif untuk memperkuat kampanye dan edukasi mengenai pentingnya gaya hidup halal di tengah masyarakat. Ada dua aspek dalam edukasi halal publik yang memerlukan perhatian lebih, yaitu pentingnya menanamkan mindset halal, dan pentingnya mengamalkan gaya hidup halal.

Mindset halal

Secara sederhana, mindset atau pola pikir merupakan keyakinan dan kepercayaan seseorang atas sesuatu yang kemudian akan memengaruhi sikap, cara pandang dan tindakan orang tersebut. Mindset ini terbentuk berdasarkan proses pendidikan, pengalaman, pengaruh informasi dan dinamika kondisi keluarga dan lingkungan yang dialami oleh seseorang. Proses-proses inilah yang kemudian akan membentuk pola pikir yang pada gilirannya akan memengaruhi perbuatan seseorang. Karena itu, dalam konteks edukasi halal, perlu dirumuskan berbagai strategi dan pendekatan yang secara efektif dapat menyampaikan pesan akan pentingnya pola pikir dan gaya hidup halal kepada publik.

Misalnya, Islam menekankan pentingnya untuk mencari sumber penghasilan yang halal, karena akan mendorong seseorang untuk hanya berorientasi pada konsumsi produk dan jasa yang halal, menyehatkan jiwa dan raga, dan mengundang keberkahan dan kebahagiaan hidup. Selain itu, Islam juga mengajarkan bahwa mencari penghasilan yang halal akan meningkatkan produktivitas kerja seseorang. Secara makro, hal tersebut juga akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, penghasilan yang haram, yang antara lain diperoleh melalui jalan korupsi, akan memberikan dampak negatif yang signifikan, seperti menurunkan kualitas kesehatan jiwa seseorang, menumbuhkan ketidakpedulian akan konsumsi barang dan jasa apakah halal atau haram, mengundang ketidakberkahan dan ketidakbahagiaan hidup, serta secara makro, merugikan kehidupan masyarakat dan bangsa. Korupsi akan menurunkan kualitas pertumbuhan ekonomi, dan akan meningkatkan kesenjangan antara kelompok kaya dengan kelompok miskin. Studi WHO misalnya, menunjukkan bahwa korupsi di bidang kesehatan mengakibatkan turunnya kualitas sistim jaminan kesehatan dan perlindungan kesehatan khususnya bagi kelompok miskin dan rentan.

Demikian pula ketika Islam mengajarkan pentingnya mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib, maka hal tersebut akan memengaruhi kondisi kesehatan seseorang, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Telah banyak studi yang menjelaskan hubungan antara konsumsi makanan dengan kesehatan mental seseorang. Sebagai contoh, Lachance dan Ramsey (2015) membuktikan adanya hubungan antara pola diet dan makan seseorang dengan tingkat kesehatan mentalnya. Karena itu, memperhatikan kehalalan dan ke-thayyib-an konsumsi makanan merupakan hal yang sangat penting.

Secara ekonomi, industri makanan halal juga memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Dengan volume yang mencapai angka USD 1,3 trilyun secara global dan rata-rata pertumbuhan 3,5 persen per tahunnya, maka industri makanan halal memberikan ruang dan peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia. Indonesia harus tampil menjadi produsen utama makanan halal dunia. Karena itulah, edukasi pentingnya makanan halal dan thayyib ini harus terus menerus digencarkan, karena dampaknya bersifat multidimensi, mulai dari dampak personal hingga dampak ekonomi.

Selanjutnya, yang juga sangat penting adalah edukasi semangat berbagi sebagai bagian dari gaya hidup halal. Tidak mungkin seseorang akan dapat mempraktikkan gaya hidup halal yang komprehensif tanpa didukung oleh semangat berbagi yang ditunjukkan dengan pelaksanaan ZISWAF. Secara personal, semangat berbagi akan meningkatkan kualitas hidup seseorang, meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan seseorang termasuk kesehatan mentalnya, dan menyuburkan semangat optimisme dalam hidup, seberat apapun tekanan dan cobaan yang dihadapi. Ini akan menjadi modal sosial yang kuat.

Secara sosial, semangat berbagi akan menumbuhkan solidaritas sosial dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Secara ekonomi, semangat berbagi bisa menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, termasuk memberikan akses pemenuhan kebutuhan dasar kepada masyarakat miskin dan rentan.

Karena itulah, gerakan zakat dan wakaf yang kita dorong pada dasarnya bukan hanya sekedar gerakan untuk mengumpulkan dana sosial keagamaan, tapi merupakan gerakan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kehidupan umat dan bangsa. Inilah diantara urgensi untuk terus menerus memperkuat edukasi halal, sehingga mindset dan gaya hidup halal masyarakat bisa semakin meningkat dari waktu ke waktu. Wallaahu a’lam.

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi Syariah FEM IPB dan Anggota BW

Artikel ini sudah terbit di Republika, edisi 26 Agustus 2021

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed