by

Era Madrasah Berprestasi

JAKARTA (iHalal.id) — Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia (MAN IC) Serpong, Banten berhasil meraih peringkat 1 Nasional Sekolah dengan Nilai Tertinggi UTBK tahun 2021 dengan angka 675.962 berdasarkan rilis Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Siswa dari sekolah yang sama juga meraih prestasi Internasional yang tidak kalah membanggakan dengan membawa pulang Medali Perak International Biology Olympiad 2021, Portugal atas nama Farrel Alfaza Marsetyo dan Hanif Muhammad Zhafran menggondol medali Perunggu pada International Chemestry Olympiad 2021 di Jepang.

Wartawan senior iHalal.id Abdul Rachim (kanan) sedang mewawancarai Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Prof. Dr. Isom Yusqi, MA., Kamis (14/10) di Jakarta.

Hal ini disampaikan oleh bapak Prof. Dr. Isom Yusqi, MA, selaku Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama pada iHalal.id, Kamis (14/10) di kantornya di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta.

Capaian prestasi ini tentu tidak lepas dari proses belajar mengajar di Madrasah yang secara terus menerus dan berkesinambungan untuk ditingkatkan kualitas sistem pembelajarannya baik siswa, guru melalui transformasi kurikulum, dan ditunjang sarana serta prasarana yang memadai.

Lebih lanjut pak Isom yang mengawali karier sebagai Dosen dan telah berkecimpung di Direktorat Pendidikan Islam Pusat sejak tahun 2006 ini, menjabarkan bahwa dengan tag line Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah harus mandiri secara finansial. Alasannya, agar Madrasah bisa fokus pada inovasi, mengembangkan dan menerapkan ilmu sehingga maju dengan target kuantitatif dan prestasi yang terukur baik akademik maupun non akademik. Contohnya, MAN IC yang kini jumlahnya mencapai 23 yang tersebar di berbagai provinsi, lulusan siswanya ditargetkan 90% diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Bila tidak tercapai akan dievaluasi, sehingga Madrasah Mandiri Berprestasi bisa diraih.

Dengan begitu Madrasah akan dijadikan pilihan oleh masyarakat karena telah setara dengan sekolah umum lainnya. Upaya meningkatkan kualitas ini telah lama didengungkan bahkan jauh sebelum Pak Habibie dengan BPPT nya memprakarsai berdirinya Madrasah Aliyah Insan Cendikia di Serpong, Banten dengan slogan siswa Madrasah berotak Jerman berhati Makkah.

Dikisahkan oleh pak Isom yang lahir dan dibesarkan di Surabaya ini bahwa sebelum tahun 1980 an Madrasah dianggap sebagai sekolah kelas kaum pinggiran, para orang tua siswa baru memasukkan anaknya ke Madrasah bila tidak masuk di sekolah negeri. Nah sejak era pak Munawir Sjadzali sebagai Menteri Agama, telah merubah wajah pendidikan Islam semakin maju dengan Madrasah Aliyah Program Keagamaan(MAPK) dan pengembangan Pendidikan Tinggi dengan membuka program beasiswa pembibitan dosen S2, S3 baik ke Timur Tengah, Amerika dan Eropa sehingga kualitas Sumber Daya Manusia di lingkungan pendidikan Islam meningkat.

Sejak itu Madrasah tidak dipandang sebelah mata lagi dan dijuluki sekolahnya kaum puritan tetapi telah bergeser ke tengah sehingga berangsur angsur semakin diminati masyarakat sehingga jumlahnya telah mencapai lebih dari 83.000 madrasah di seluruh nusantara. Apalagi masyarakat semakin sadar pentingnya peran Madrasah yang tidak sekedar menguasai IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) tetapi juga IMTAQ (Iman dan Taqwa), paparnya lebih lanjut.

Terakhir Prof. Dr. Isom Yusqi MA mengharapkan bahwa berlakunya kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Majemuk di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, juga dapat dijalankan di Madrasash dibawah Kementerian Agama yang saat ini masih diberlakukan BOS biasa, sehingga madrasah menjadi lebih optimal. (Abdul Rachim)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.