by

Hadapi Gelombang Disrupsi, Kepustakawanan Dituntut Buat Inovasi

JAKARTA (iHalal.id) — Ketua Umum Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Mariyah, S.Sos., M.Hum menyampaikan bahwa profesi kepustakawanan ke depan akan menghadapi gelombang perubahaan (disruptive) yang menuntut setiap pustakawan harus beradaptasi dan membuat inovasi untuk berperan dalam gelombang tersebut.

“Kemampuan melakukan inovasi dan adaptasi di era disruptif ini tidak muncul begitu saja. Sangat diperlukan kemauan untuk meningkatkan kompetensi baik secara invidual maupun secara kolegial,” kata Mariyah dalam siaran pers di Jakarta, Senin (31/10/2022).

Dia mengatakan hal itu ketika membuka Konferensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) ke-1 tahun 2022 bekerja sama dengan FPPTI Provinsi Nusa Tenggara Barat, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Konferensi itu bertempat di The Jayakarta Hotel Resort and Spa, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Konferensi pertama yang diselenggarakan selama tiga hari, 27 sampai dengan 29 Oktober 2022 ini dihadiri oleh kurang lebih 138 Pustakawan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dari berbagai provinsi di Indonesia.

Konferensi ini menyajikan berbagai kegiatan, seperti Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara perguruan tinggi peserta KPPTI dengan Perpustakaan Nasional RI, Seminar Nasional, Seminar Internasional, Call for Papers, dan beberapa Workshop mengenai Perpustakaan dan Pustakawan Perguruan Tinggi.

Mariyah menyebutkan, peningkatan kompetensi dengan menumbuhkan konsep belajar secara berkelanjutan harus didukung juga dengan media pengembangan kompetensi pustakawan, seperti konferensi, seminar, training, workshop. “Bahkan kesempatan melakukan studi banding, penulisan ilmiah atau kegiatan apapun yang memiliki fokus pada pengembangan kompetensi secara kontekstual dan up to date,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UIN Mataram, Prof. Dr. Adi Fadli, M.Ag. mengatakan, perpustakaan sebagai jantungnya perguruan tinggi harus menerapkan ICT (Information and Communication Technology) dalam pengelolaannya.

Pada kesempatan itu, dia mengucapkan terima kasih telah diberi kepercayaan oleh FPPTI menjadi tuan rumah kegiatan KPPTI. FPPTI juga meluncurkan Buku Panduan Literasi Informasi Pendidikan Tinggi dan Sistem Keanggotan bernama SISKA.

Dalam konferensi ini, FPPTI mengundang Ketua Forum Rektor Indonesia 2022, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng., sebagai Keynote Speaker. Dalam pidatonya, Panut menyampaikan bahwa Pustakawan Perguruan Tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung Perguruan Tinggi di Indonesia untuk melakukan berbagai inovasi dan perubahan.

Hari pertama dibuka dengan Seminar Nasional mengenai Academic Library & Librarian Profession in the Big Wave of Disruptive Change dengan dua pembicara, Prof. Dr. Paulina Pannen, M.L.S. dari ICE Institute dan Prof. Dr. Ir. R. Eko Indrajit., M.Sc., MBA., Mphil., MA dari Universitas Pradita, dengan Moderator Dhama Gustiar Baskoro, S.S. M.Pd.

Kedua pembicara menyampaikan hal-hal yang akan dihadapi pustakawan dengan adanya gelombang disrupsi dan juga mendorong pustakawan dan perpustakaan perguruan tinggi sebagai lembaga untuk melakukan inovasi, misalnya menyediakan ruang belajar maya/virtual/metaverse hingga meningkatkan profesionalitasnya.

Pada hari pertama, juga dipresentasikan Call for Papers dari sembilan peserta yang telah lolos tahap seleksi sebelumnya. Penulis Call for Paper KPPTI kemudian mempresentasikan hasil temuannya di hadapan peserta KPPTI yang digelar secara paralel di dua ruangan yaitu Ruang Ballroom dan Ruang Rinjani.

Hari kedua, seminar internasional dihadiri oleh dua pembicara internasional, Shubhra Dutta dari India dan Priyanka Chatterje dari Singapura, dan pembicara nasional Ida Fajar Priyanto, Ph.D. dari Indonesia dengan moderator Safirotu Khoir, PhD, dari Universitas Gadjah Mada.

Seminar Internasional membahas manajemen repositori di perpustakaan perguruan tinggi, inovasi di bidang literasi informasi, hingga masa depan dari profesi pustakawan secara global. Setelah sesi seminar internasional dilanjutkan workshops dengan membahas topik seputar, repositori institusi, akreditasi perguruan tinggi, literasi informasi, dan kepemimpinan perpustakaan perguruan tinggi.

Workshops KPPTI dihadiri oleh berbagai pembicara ahli di bidangnya, seperti: Dwi Fajar, S.Sos., M.M. dari UPN Veteran Jakarta; Sony Pawoko, S.Sos., M.T.I dari Universitas Indonesia; Amirul Ulum, S.Sos., M.IP dari Universitas Surabaya; Chandra P. Setiawan., M.Sc. dari Universitas Kristen Petra; Dhama Gustiar Baskoro, S.S., M.Pd. dari Universitas Pelita Harapan; Rikarda Ratih S, M.I.Kom dari Universitas Katolik Soegijapranata; Dr. Santi Delliana, S.Sos., M.I.Kom; dari Kalbis Institute, dan Dr. Purwani Istiana, S.IP., MA dari Universitas Gadjah Mada.

Menurut Dr. Santi Delliana, S.Sos., M.I.Kom; dari Kalbis Institute selaku Ketua Panitia, seluruh keberhasilan Konferensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia yang pertama karena adanya dukungan dari berbagai pihak seperti panitia, peserta, dan para mitra yaitu Sage Publishing, Kubuku, PT. Batuah Infotama Sakti, EBSCO Host, Spektra, Aksaramaya, I-group Indonesia, Springer Nature, dan Pearson. Tak ketinggalan juga Perpustakaan Nasional RI yang telah memfasilitasi MoU dan PKS.

Hadir dalam kesempatan ini Plt. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI, Bapak Drs. Nurcahyono, S.S., M.Si., pimpinan perguruan tinggi dan Kepala Perpustakaan peserta KPPTI. Dengan berjalannya Konferensi Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia yang pertama diharapkan mampu menjadi salah satu konferensi kepustakawanan di Indonesia yang memberikan dampak nyata terhadap perkembangan dan inovasi di kalangan Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia. (Sat)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.