by

Indonesia Bersama Palu dan Donggala

JAKARTA (iHalal.id) — Gempa bumi dan tsunami yang melanda sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah menjadikan daerah terdampak gempa darurat bantuan, khususnya kebutuhan logistik. Merespons hal itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berupaya sesegera mungkin mengirimkan bantuan, terutama pangan dan air bersih kepada masyarakat terdampak gempa di Palu dan Donggala.

“Pengalaman kami menangani bencana skala besar seperti ini, dalam pekan ini tidak harus ada yang diperjuangkan kecuali penggerak logistik sebanyak-banyaknya. Pastikan tidak ada satu orang pun pengungsi, baik di Palu, Donggala, Parigi Moutong, juga Sigi yang mengalami kelaparan. Kami kira bantuan logistik makanan ini yang paling-paling harus disegerakan,” ujar Ahyudin dalam konferensi pers dan pembukaan Pusat Informasi Gempa Palu, Senin (1/10).

Menurut Ahyudin, pemenuhan pasokan logistik diharapkan dapat meminimalisir kabar “penjarahan” minimarket dan toko kelontong yang terjadi di daerah bencana. Segala macam kendala di lokasi bencana bukan menjadi alasan bagi ACT untuk tidak sesegera mungkin mengirimkan bantuan logistik.

“Kami per hari ini mengirimkan bantuan logistik dari Sidrap, Sulawesi Selatan, kurang lebih 1.000 ton beras dengan perjalanan 18 jam. Bersama TNI AL, kami baru akan memberangkatkan Kapal Kemanusiaan dari Surabaya Sabtu esok kurang lebih 1.000 ton beras juga. ACT Insya Allah dalam 10 hari ke depan ini tidak akan kurang mengirim 5.000 ton logistik bantuan ke Palu,” jelas Ahyudin.

Selain makanan, ACT juga menyiapkan tenaga medis, keperluan obat-obatan, tim evakuasi SAR, juga penguasaan teritorial bencana dengan maksud melakukan pemetaan dampak bencana. Upaya ini, menurut Ahyudin dimaksimalkan guna meluaskan distribusi bantuan. “Hingga hari ini, ACT telah mengupayakan berbagai hal di Palu, termasuk mengirimkan ribuan relawan ahli untuk turut membantu masyarakat terdampak gempa di Palu,” ungkapnya.

Ahyudin berharap, masyarakat dapat mengambil hikmah baik dari terjadinya bencana, yakni sebagai salah satu momen pemersatu bangsa.

“Cara terbaik merespons sapaan langit, tunjukkan kepedulian pada sesama yang sedang diuji dengan bencana. Elemen pemerintah dengan amanahnya, bergerak serius dan secepatnya membantu, memulihkan yang rusak, menolong yang sakit, dan lapar. Elemen masyarakat membantu dengan segenap kemampuan, tidak boleh hanya ada yang menonton nestapa ini,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Manager Disaster Management Institute of Indonesia (DMII), Wahyu Novyan menjabarkan keadaan pelik yang terjadi di lokasi bencana cukup menjadi kendala. Mulai dari listrik yang padam, hingga akses jalan darat, udara dan laut yang sangat terbatas bagi masuknya bantuan.

“Memang kondisi di dua lokasi terdampak bencana utama, Palu dan Donggala, sangat parah. Dibandingkan kita beberapa hari masuk (pascagempa) di Lombok memang sangat jauh (perbandingannya). Palu memiliki penduduk sangat padat. Palu juga memiliki bangunan-bangunan tinggi sehingga destruksi akibat gempa sangat masif,” ungkap Wahyu.

Menurut Wahyu, hal tersebut menyebabkan akses dan komunikasi sangat sulit. “Teman-teman kami di lokasi hingga tiga hari pascagempa ini masih sulit dikontak, baik melalui jalur internet maupun telekomunikasi normal. Itu juga berpengaruh karena padamnya listrik,” imbuhnya.

DMII terus memutakhirkan data jumlah pengungsi, “Kami terus memperbarui jumlah pengungsi. Sebab ada empat kota dan kabupaten terdampak. Selain Palu dan Donggala ada Sigi dan Parigi Moutong yang memang terletak satu jalur dengan sesar Palu-Koro. Kemudian beberapa hasil kami turun ke lapangan, sudah disampaikan ke pemerintah setempat terkait potensi bencana dari sesar ini,” jelas Wahyu.

Terkait masalah keterbatasan informasi saat ini, ACT berinisiatif menyediakan Information Center di kota-kota besar seperti Makassar dan Jakarta. “Apapun data yang teman-teman ACT dapatkan di lapangan akan dimasifkan untuk disebar keluar. Di seluruh bandara yang menuju Palu, publik akan mendapat informasi terkini terkait keadaan terdampak gempa di Palu dan Donggala dan kabupaten sekitarnya,” ujar Vice President of Communication ACT, Iqbal Setyarso.

Dua kali diuji oleh bencana besar, ACT mencoba untuk berupaya semaksimal mungkin, memulihkan Lombok dan menolong kondisi darurat di Palu. Ahyudin menegaskan, ACT belum tuntas menangani masyarakat terdampak gempa di Lombok, masih ada banyak hal yang bisa dipulihkan setelah beberapa waktu lalu menyerahkan satu kawasan hunian terintegrasi di Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Sementara Lombok dipulihkan, penyelesaian darurat logistik dan evakuasi jenazah akan dimasifkan di Palu. ACT merilis tagar, mengajak semua bergerak untuk kemanusiaan membantu Palu. Tagar itu bertajuk #IndonesiaBersamaPaludanDonggala.

“Kita beradu dengan waktu. Kita segera menolong yang sakit dan terluka, menghibur yang kehilangan, menyiapkan naungan bagi yang kehilangan rumah. Tunjukkan kepada dunia kesatuan kita sebagai bangsa. Ujian ini menjadi cara Allah menjadikan kita bangsa yang terlatih menolong sesama, terlatih melayani dan mengurusi persoalan kehidupan. Allah sedang siapkan kita menyelamatkan dan membangun kehidupan,” pungkas Ahyudin.

Salam persahabatan
Lukman Azis Kurniawan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed