by

Ingin Jadi Orang Kaya

Oleh : Idat Mustari*

Dulu saya tahu seseorang yang ingin cepat kaya dengan menumbalkan anak atau orang-orang tercintanya hanya dalam film. Seperti film Warisan Terlarang, juga terkenal dengan judul Nyegik, di tahun 1990 yang dibintangi oleh Kang Ibing dan Yati Octavia. Film yang menceritakan cara seseorang jadi kaya dengan cara cepat dan instan. Ah, kupikir ini hanyalah cerita fiksi saja, tak ada di dunia nyata.

Namun tak sengaja ku menonton berita di salah satu station televisi, menonton berita atas kejadian yang memilukan di Gowa, Sulawesi Selatan. Di tayangan itu memperlihatkan video seorang anak yang menjerit-jerit kesakitan hendak dicongkel matanya oleh orang tua kandungnya serta melibatkan nenek, kakek dan paman korban. Diduga ini dilakukan sebagai bagian dari praktek pesugihan. Cara cepat ingin jadi orang kaya tanpa harus kerja keras. Berkali-kali mulut ku beristigfar, tak kuat membayangkan bagaimana rasa sakitnya anak kecil itu. Miris, memilukan, dan prihatin, tiga kata yang terlintas di benak ku saat menonton berita itu.

Miris sebab salah satu cara syetan agar seseorang melakukan perbuatan keji, jahat, adalah dengan cara memberikan rasa takut miskin pada hati manusia. Seperti dalam firman Allah: “ Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 268)

Ketika rasa takut jadi miskin nempel pada hati seseorang, maka yang muncul di hati orang itu, “aku harus kaya.” Kalimat itu adalah musibah baginya, sebab berakibat tak rasional, nekat, bahkan melakukan tindakan yang sangat keji yakni mengorbankan anak sendiri yang seharusnya dirawat, dijaga dengan baik.

Boleh-boleh saja seseorang bercita-cita jadi orang kaya, sebab Islam tak mengharamkan orang jadi kaya, dan juga tak mewajibkan orang jadi miskin. Kaya tidak haram, miskin tidak wajib. Jika ingin jadi orang kaya, kuncinya adalah bekerja keras,kreatif dan ilmu yang kuat. Bukan lari ke dunia pergaiban yang pasti tak rasional bahkan mengandung unsur kemusrikan.

Tentu kita sangat tidak berharap kejadian seperti di Gowa, Sulsel tersebut terulang kembali. Salah satunya dengan cara mengedukasi masyarakat tentang nilai-nilai agama, bahwa hidup bukan jadi orang kaya atau miskin tapi bagaimana jadi manusia sesungguhnya. Yakni manusia yang memahami dirinya dengan baik, benar dan tepat. Bahwa dirinya hanyalah hamba Allah. Wallahu ‘Alam.

*Pengamat Sosial & Agama, Pengacara, tinggal di Bandung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed