by

JakLingKo Angkutan Gratis Ibu Kota

JAKARTA (iHalal.id) — Penumpang naik angkot duduk di depan, persis samping mas sopir. Satu persatu penumpang di belakang nyerahin kartu. Oleh sopir kartu itu di tempel di mesin kecil yg ada di depan. Bunyi tiiit. Lalu, kartu itu dikembalikan satu persatu ke para penumpang.

Mesin Tap segala kartu elektronik yang terpasang disamping pengemudi JakLingKo. (Foto: Dok. iHalal.id).

Giliran ke saya sopir nanya: mana kartunya pak? Kartu apa? Saya balik nanya. Aku gak punya kartu angkot, Jawabku. Kalau gak punya kartu, gak bisa pak. Katanya. Oh, kalau gitu, aku turun depan.

Ketika angkot berhenti, aku tanya lagi sebelum turun. Kalau kartu e-toll bisa? Bisa pak. Mandiri dll. Jawab sopir itu. Oh, kalau gitu, aku punya kartu e-toll Mandiri. Segera aku keluarin kartu dan ditempel di mesin kecil di depan sopir. Ternyata, bisa! Alhamdulillah,. Aku gak jadi turun. Mobil jalan lagi.

Ini gratis pak, sudah 2 tahun kata Sopir ini, Pa Gubernur (Anies Baswedan) menyediakan angkutan gratis ini. Tanyaku lagi. Betul! 0 rupiah bayarnya. Sopir itu menjawab. Aku lihat di mesin, betul. Angka 0.

Berarti digaji bulanan ya mas? Tanyaku lagi. Berapa gaji sebulan? Rp. 4,2 juta, katanya. Oh, gaji tetap, gak dikejar setoran, kerja dg tenang. Sahutku. Sopir mengangguk.

Kutanya sopir lagi, ada berapa jumlah angkot yg gratis di DKI? Dia beri rincian per rute. Hapal betul sopir ini. Anda sopir atau pengusaha angkut? Gumam dalam hatiku. Totalnya, kata si sopir, ada ratusan angkot Jaklinko di DKI. Gratis. Ini luar biasa!

Sampai di Lebak Bulus aku turun. Semua penumpang, tanpa terkecuali mengucapkan terima kasih ke mas sopir. Gratis, bawa angkotnya santai dan komunikasinya santun.

Bagiku, ini bukan hanya soal gaji, angkot dan sopir. Tapi ini soal perilaku. Semua jadi berubah. Dengan gaji tetap, sopir tak lagi kejar setoran. Tak perlu zig zag, potong jalan, ngebut dan ngerem mendadak yang bisa membahayakan penumpang dan pemakai jalan yang lain. Mobil terawat, nyaman di jalan, gratis pula.

Ada sekitar 1 juta warga Jakarta yg menggunakan angkot setiap harinya. Jika semakin banyak warga menggunakan jasa angkot, maka akan berpengaruh pertama, pada kemacetan. Akan sangat berkurang. Kedua, lebih ekonomis.

Gratis, gak perlu boros bensin. Kalau harus naik bus way atau MRT, murah sekali bayarnya. Sangat terjangkau oleh karyawan dengan gaji rendahan.

Ketiga, angkot jadi tempat plural dan heterogen dalam interaksi dan pergaulan. Semua identitas dan status sosial melebur dalam satu lingkungan interaksi. Di tempat publik ini, ego status runtuh. Orang gak kenal direksi, komisaris atau manager. Yang mereka lihat adalah penumpang angkot.

Sekali lagi, ini bukan hanya soal angkot yang gratis. Tapi ini soal pluralitas, pembauran sosial dan terapi mental yang berefek pada terurainya kemacetan dan juga managemen ekonomi keluarga. Banyak hal positif yang bisa diurai dari program Jaklinko ini. Program Jaklinko (Jakarta Lingkungan Kota–red.) DKI sangat baik dan proper. (Netizen-pengguna angkutan publik)

_

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed