by

Jalan-jalan Virtual ke Amerika ala Rumah Produktif Indonesia

JAKARTA (iHalal.id) — Komunitas Rumah Produktif Indonesia (RPI) yang didirikan sejak awal pandemi global melanda Indonesia terus aktif berkegiatan untuk menumbuhkan budaya produktif bagi anggotanya. Salah satunya adalah dengan “jalan-jalan virtual” yang digelar oleh RPI English School pada diskusi yang digelar di zoom meeting (14/6).

Peserta Berfoto di Depan Gedung Capitol Amerika Serikat. (Dok. Pribadi)

“Acara ini kami gelar untuk berjalan-jalan ke luar negeri lewat sharing pengalaman dari mereka yang sudah berkunjung ke berbagai kota di dunia,” kata Maghdalena, Direktur RPI English School.

Yanuardi Syukur, Presiden Produktif Indonesia, didaulat sebagai pembicara untuk bercerita pengalamannya berkunjung ke Amerika Serikat dalam program “Religious Freedom and Interfaith Dialogue” pada 2019 yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri AS, World Learning, dan Kedubes AS di Jakarta.

Dalam paparannya, Yanuardi bercerita tentang suasana di tiga kota yang dikunjunginya, yaitu Washington, DC, Pittsburgh, dan New York, lengkap dengan foto-foto yang jarang dilihat orang.

Di sana dia juga bertemu dengan berbagai tokoh Indonesia seperti Imam Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Ketua PBNU Marsudi Syuhud, Katib Am PBNU Yahya C. Staquf, dan para tokoh agama seperti Presiden Foundation for Ethnic Understanding Rabbi Marc Shcneier, Presiden Civilizations Exchange & Cooperation Foundation Mohamad Bashar Arafat, dan Presiden ISNA Sayyid M. Syeed.

“Dalam kompleks National Mall ada National Museum of African American History and Culture yang berisi sejarah dan kebudayaan Afro-Amerika yang sangat memperkaya perspektif kita tentang orang Afrika di Amerika,” kata Sekretaris dan Peneliti Center for Strategic Policy Studies SKSG UI tersebut.

Relasi antara warga kulit-putih dan hitam di Paman Sam memang tidak seimbang sejak awal, namun perjuangan untuk menciptakan kesamaan itu terus diteriakkan dari waktu ke waktu, lanjut Yanuardi, kandidat Doktor Antropologi FISIP UI.

Dia berharap kasus kematian George Floyd dapat menjadi batu loncatan bagi orang Amerika untuk memosisikan bahwa semua orang itu sama sebagai manusia, sebagaimana frasa terkenal dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika bahwa “Semua manusia diciptakan setara” (All men are created equal) yang dilontarkan salah satu pendiri Amerika, Thomas Jefferson.

Selama di Washington, DC, dia juga berkunjung ke Capitol, Washington Monument, Gedung Putih, Howard University dan juga ke KBRI yang bersebelahan dengan The Fairfax Hotel, tempatnya menginap bersama puluhan peserta se-dunia.

Delegasi Indonesia antara lain Arisman (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta/Lentera Foundation), Nur Khafid (IAIN Surakarta), Wiwin Siti Aminah Rohmawati (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Fransiska Widyawati (Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng NTT).

Selain dari Indonesia, peserta lainnya berasal dari Burma, India, Malaysia, Sri Lanka, Thailand, dan Amerika Serikat.

IMAAM Center di Maryland. “IMAAM Center adalah komunitas Islam yang eksis berkegiatan tidak hanya bagi orang Indonesia tapi juga bagi orang Amerika dan bermitra dengan berbagai lembaga,” kata Yanuardi Syukur yang ketika itu bertemu Presiden IMAAM Center Bagus Adiyanto, Imam Fahmi Zubir, dan senior overseas Indonesia di sana.

Yanuardi, penulis 80-an buku tersebut juga berbagi pengalaman ketika mengikuti berbagai program diskusi lintasagama di Pittsburgh, berkunjung ke masjid, gereja, sinagog, kuil, dan bertemu Walikota Pittsburgh Bill Peduto.

Tak lupa, dia juga bercerita pengalamannya saat jalan kaki selama satu jam ke kantor PBB setelah penutupan program semata agar bisa salat berjema’ah bersama Imam Shamsi Ali. Selama di New York, dia juga berkunjung ke ground zero 9/11 (bekas menara kembar WTC), Wallstreet, dan Broadway.

Jalan-jalan virtual yang dipandu oleh pengusaha muslimah Sofie Ghufron ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang di Indonesia seperti Maghdalena, M. Ibrahim Hamdani, Faisal Pakaya, Taufik Uieks, Widodo, Widya Rizki Pratiwi, Abd Majid, Ariani, Sahidin Sura, Sisri Handayani, Dhiah Ashri, Nuria, dan MS. Wijaya.

Irfan Syuhada, qori’ dan seorang pegiat sepeda di Depok berharap agar diskusi seperti ini dapat terus diselenggarakan agar memperkaya wawasan peserta.

Rutriana Meilisa yang siapa Anna, seorang alumni program di China merasa beruntung dapat join dalam diskusi virtual di masa pandemi ini.

“Terima kasih sudah diajak jalan-jalan ke Amerika. Sharingnya, keren!” tutup Eka Purnamawati, penulis “Berjalan di Atas Kenangan”.

Sesi terakhir diskusi diisi dengan tips untuk memperlancar bahasa Inggris, meningkatkan percaya diri, dan bagaimana mengelola kekurangan menjadi kelebihan yang pada gilirannya berguna untuk mengharumkan nama Indonesia di dunia global lewat peminatan kita masing-masing. (Arum — Citizen Journalist).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.