by

Keberhasilan Taliban Cermin Kemenangan Umat Islam

Oleh: Muhamad A. Joban, MA.

Anggapan negatif terhadap Taliban (Talaban—red.) selama ini memudar, menyusul kemenengan gemilang mereka menggulingkan pemerintah Afghanistan dukungan Internasional pimpinan AS, di bawah Presiden Ashraf Ghani, Minggu lalu (16/08). Kemenangan Taliban (Imaroh Islam/Kepemimpinan Islam—red.) setidaknya membuktikan, pada kenyataannya Taliban tidak melakukan kekerasan ketika memasuki Kabul, Ibu Kota Afganistan.

Imam Masjid Ar-Rahmah, Redmond, Seattle, AS, Muhamad A. Joban, MA. (paling kiri) mewakili utusan dari Amerika Serikat ketika menghadiri pertemuan para pemimpin Agama di Uzbekhistan beberapa waktu lalu. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Setidaknya hal itu diungkapkan Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, bahwa pihaknya tetap menghormati musuh yang telah menyerahkan diri dan menjamin kemananan Istana, melindungi Warga Sipil serta menyatakan siap berdialog dengan pihak Oposisi maupun perwakilan Internasional yang ada di Afganisthan.

Rangkuman pendapat tersebut diutarakan Cendekiawan Muslim yang juga Imam Masjid Ar-Rahmah, Redmond, Seattle, Muhamad Awod Joban, MA., kepada iHalal.id melalui pernyataan voice note WA, semalam (17/08). Imam asal Kota Purwakarta, Jawa Barat itu menambahkan, kemenagan Taliban setidaknya bisa memupus opini negatif bahwa Taliban adalah Teroris, Islam garis keras.

“Proses kemenangan Taliban, setidaknya menjadi pelajaran bagi kita Umat Islam di seluruh dunia, bahwa dengan niat yang tulus yang didasari oleh keinginan luhur bahwa perjuangan semata-mata karena Allah SWT, akan membuahkan hasil”, ungkap Lulusan Universitas Al-Azhar ini.

Ditambahkan, Kemenangan Taliban terhadap pemerintahan bentukan AS dan sekutunya itu, juga memiliki nilai heroik dan Agama. Heorik karena mereka tidak kenal lelah setelah sempat berkuasa di awal di awal tahun 2001, namun digulingkan kembali AS melalui serangan besar-besaran bersama para sekutunya, termasuk Inggris. Setelah itu, seolah Taliban tidak runtuh semangat perjuangannya. Sementara Aspek Agama Islam terus tumbuh dijiwa para pejuang, dengan terus berupaya membawa nilai-nilai Islam dalam setiap langkah perjuangannya, hingga ketika merebut Ibu Kota Kabul sekalipun.

Taliban, melalui juru bicaranya menegaskan, mereka akan melindungi Orang tua dan Anak-Anak, Orang-orang yang berbeda Agama, menjamin keberadaan Istana Negara yang ditinggalkan, menjamin perusahaan-perusahaan Asing yang ditinggalkan pemiliknya yang lari ke luar negeri.

Sementara yang paling menarik perhatian Masyarakat Internasional adalah pernyataan sikap Taliban yang siap berdialog dengan para musuh-musuhnya, baik para pemimpin yang berkuasa sebelumnya maupun dengan para diplomat yang berada di kabul.

“Sungguh yang dilakukan Talaban (baca: Taliban–red.) diluar dugaan pihak manapun di Dunia, karena kecepatan akselerasi perebutan kekuasaan dan penerimaan hampir seluruh rakyat Afghanistan. Selain itu, apa yang dilakukan para pejuangnya menerapkan nilai-nilai Islam, seperti mereka manjamin keselamatan penduduk, baik warga asli maupun pendatang, menjaga aset negara, seperti Istana, Jembatan, Gedung-gedung. Ini mengingatkan kita semua dengan Policy (kebijakan) Rasullullah SAW, ketika beliau menaklukan Mekkah”, Ungkap Imam yang rajin berdakwah dibeberapa penjara Pemerintah AS.

Pemerintahan Taliban juga menjamin keberadaan semua aset-aset warga yang ada, seperti Tanah, Rumah, Perkebunan. Selain itu, mereka juga menjamin para pedagang terhadap aset pasar maupun modal mereka. Menurut Imam Joban, satu hal yang menjadi nilai dukungan Taliban di mata rakyat Afghanistan adalah mereka terus berkampanye memerangi Korupsi yang merajalela di pemerintahan bentukan AS dana sekutunya.

Seperti dilansir Kompas.com edisi Senin (16/8), Pada Minggu (15/8/2021), Juru bicara Taliban urusan politik Mohammad Naeem mengatakan kepada Al Jazeera Mubasher TV bahwa perang telah usai. Pernyataan tersebut disampaikan Naeem beberapa saat setelah Taliban memasuki ibu kota Afghanistan, Kabul.

Setelah Taliban memasuki Kabul pada Minggu, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dilaporkan meninggalkan Afghanistan. Ghani beralasan, dia ingin menghindari pertumpahan darah. Beberapa orang di media sosial mengecamnya sebagai pengecut. Jatuhnya Kabul ke tangan Taliban tak terlepas dari hengkangnya pasukan asing yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Awalnya, AS bakal menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan dengan tempo 11 September 2021. “Negeri Paman Sam” mengatakan pasukannya bakal ditarik secara bertahap mulai Mei. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Sejak saat itu, 50 dari 370 distrik di Afghanistan telah jatuh di tangan Taliban sejak Mei, saat dilanjutkannya penarikan pasukan AS dari Afghanistan.

Tim Biden Kaget Afghanistan Runtuh Begitu Cepat Rupanya, penarikan pasukan asing maju dari jadwal. Pada awal Juni ini, lebih dari 50 persen tentara AS yang ada di Afghanistan telah dipulangkan. Setelah itu, militer AS bungkam dan enggan memerinci lagi soal upaya penarikan pasukannya. Pada awal Juli, Kementerian Pertahanan AS mengumumkan, progres penarikan pasukannya dari Afghanistan mencapai 90 persen. Sisanya, 10 persen pasukan AS yang ada di Afghanistan, akan dipulangkan pada akhir Agustus alias beberapa hari sebelum tenggat penarikan yakni pada 11 September.

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan berlangsung cepat dan senyap. Bahkan, penarikan pasukan AS dari Pangkalan Udara Bagram terjadi begitu saja, tanpa ada pengumuman jauh-jauh hari sebelumnya. Setelah mayoritas pasukan asing hengkang, Taliban secara cepat menduduki sejumlah wilayah di Afghanistan. Mulanya, Taliban menduduki daerah-daerah pedesaan dan pinggiran Afghanistan. Setelah itu, kelompok ini mengeklaim telah merebut wilayah perbatasan penting.

Beberapa negara mulai menarik diplomat dan warganya dari Afghanistan. Pada Hari Raya Idul Adha, Taliban sejenak menghentikan serangannya. Tapi setelah itu, bertempuran kembali terjadi. Menurut prediksi intelijen AS yang bocor, pemerintah Afghanistan bisa runtuh dalam enam bulan setelah AS menarik seluruh pasukannya dari sana.

Selama dua bulan, pertempuran antara Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan telah meningkat. Pada akhir Juli, Taliban diperkirakan telah menguasai hingga setengah dari seluruh wilayah. Rusia bahkan menggelar latihan militer gabungan dengan Tajikistan dan Uzbekistan mewaspadai konflik dari Afghanistan. Di sisi lain, Biden menegaskan dukungannya terhadap pemerintahan Ghani dan berjanji gelontorkan bantuan senilai Rp 1,4 triliun.

Pertempuran antara Taliban dan tentara Afghanistan makin intens. Sejak 29 Juli, Taliban mulai menyerang ibu kota provinsi Helmand, Lashkargah. Taliban juga menyerang badara Kandahar dengan roket. Pada 7 Agustus, Taliban merebut ibu kota provinsi pertama mereka, Zaranj di Provinsi Nimroz. Meski di beberapa tempat mereka mendapat perlawanan sengit, Taliban terus membuat kemajuan.

Tak butuh waktu lama, dalam lima hari, kelompok pemberontak tersebut berhasil mengontrol delapan ibu kota provinsi hanya dalam kurun waktu lima hari. AS sempat membatu tentara Afghanistan dengan bantuan serangan udara. Namun, bantuan tersebut tidaklah cukup. Bahkan, Taliban menggelar operasi untuk mengeliminasi para pilot Afghanistan di luar bandara guna melemahkan kekuatan udara Afghanistan. Taliban telah bergerak semakin dekat untuk mengontrol penuh Afghanistan. Sejak kejatuhan ibu kota provinsi pertama ke tangan Taliban, ibu kota-ibu kota lain bertumbangan.

Karena kecepatan Taliban, dinas intelijen AS merevisi prediksi mereka bahwa Taliban dapat merebut Kabul dalam waktu 90 hari, lebih cepat dari perkiraan semula. Hanya dalam tempo kurang dari sepekan, Taliban berhasil menduduki sembilan ibu kota provinsi di Afghanistan. Puncaknya, pada 15 Agustus, sebanyak 23 ibu kota provinsi telah berhasil direbut, dan Kabul diperkirakan akan mudah dijatuhkan. Bahkan, para milisi Taliban berhasil mengambil alih kendali Jalalabad, kota utama di timur Afghanistan, tanpa perlawanan.

Tak butuh waktu lama setelah merebut Jalalabad, Taliban memasuki Kabul setelah merebut 23 ibu kota provinsi pada 15 Agustus. Masuknya Taliban ke Kabul disampaikan oleh seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Afghanistan. Pada saat yang sama, AS sedang mengevakuasi para diplomatnya dari kedutaan besar dengan helikopter. Ghani lantas meninggalkan negaranya saat Kabul dikepung Taliban. Ghani pergi beberapa jam setelah Taliban memerintahkan anggotanya mengepung Kabul dari pinggiran.

Usai Rebut 23 Ibu Kota Provinsi Afghanistan Setelah itu, lantas mendeklarasikan bahwa perang di Afghanistan telah berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan Naeem beberapa saat setelah Taliban memasuki ibu kota Afghanistan, Kabul. Biden dan pejabat tinggi lainnya terkejut oleh kecepatan Taliban dalam mengambil alih Afghanistan. Masuknya Taliban ke Kabul menandai kembali berkuasanya kelompok tersebut setelah digulingkan invasi pasukan koalisi pimpinan AS pada 2001.

Naeem berujar bahwa tidak akan ada badan diplomatik atau kantor pusat yang menjadi sasaran. Dia menuturkan, Taliban meyakinkan semua orang bahwa mereka akan memberikan keamanan bagi warga negara dan misi diplomatik. “Kami siap untuk berdialog dengan semua tokoh Afghanistan dan akan menjamin perlindungan yang mereka perlukan,” kata Naeem. Dia mengungkapkan, kelompok itu membuat setiap langkah secara bertanggung jawab dan ingin berdamai dengan semua orang. (Gaf)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed