by

Kunci Sukses di Dunia & Akhirat

Oleh: Mohamad Joban LC MA*

Suatu hari seorang murid bertanya kepada gurunya: “Bagaimana agar saya bisa sampai kepada Allah?

Gurunya menjawab: “Setelah saya merenungkan dan mempelajari orang yang sudah sampai, saya dapatkan bahwa mereka tidak sampai kepada-Nya kecuali setelah mereka betul-betul menyerahkan dirinya kepada-Nya.

Nuh AS
Ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh AS untuk membangun perahu, maka Nuh AS langsung melaksanakannya. Dia tidak bertanya misalnya: “Ya Allah apa gunanya kapal laut ditengah-tengah padang pasir”.

Kemudian ketika kaumnya memboikotnya untuk tidak menjual kayu kepadanya, Nabi Nuh tidak menjadikan alasan untuk tidak melaksanakan perintah Allah.

Dia kemudian menanam pohon jati, walau cara yang ditempuh memerlukan waktu cukup lama. Juga ketika Nabi Nuh AS mulai membangun perahu, dan kaumnya menertawakannya dan mencemoohkannya, Nabi Nuh AS tidak gentar sedikitpun.
Allah berfirman:

Pekerjaan kaum Nabi Nuh AS itu Sekarang diteruskan oleh kelompok Islamophobia. Mereka tidak ada henti-hentinya berusaha untuk memadamkan cahaya Allah. Oleh karena itu, sikap kita pun harus seperti Nabi Nuh AS yaitu dengan mengacuhkannya dan memperkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. sambil berusha untuk mengamalkan akhlak Islam yang sebenarnya kepada mereka. Itulah cara dakwah yang berhasil di Amerika (dawah bilhal). Kebanyakan orang-orang Amerika yang masuk Islam adalah karena mereka melihat akhlak orang-orang muslim pada umumnya, terutama akhlak orang Amerika yang masuk Islam yang sering jadi panutan.

Ibrahim AS
Ketika Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim (AS) untuk menyembelih putranya Ismail, beliau langsung melaksanakan perintah Allah itu. Ibrahim tidak bertanya misalnya: “Oh… Allah apa hikmah dibalik seorang ayah menyembelih putranya? Tidak, beliau langsung menemui Ismail dan menyampaikan perintah Allah tersebut.

Sikap Ismail (AS)
Allah mengisahkan reaksi Ismail dengan mengatakan: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku “termasuk orang yang sabar.” (Q.S As-Saafat ayat 102)

Kira-kira kalau zaman now reaksi anak kita bagaimana? Pasti anak kita akan menjawab, ayah tadi malam makan apa, apa ayah tega menyembelih saya, saya kira mimpi itu tidak benar, dan sebagainya.

Kemudian Islmail tidak menjawab: “Silahkan ayah menyembelihku”. Tapi Ismail berkata: “Wahai ayah laksanakan apa yang telah Allah perintahkan, Insha Allah engkau akan mendapatiku sebagai bagian dari orang-orang yang sabar.

Apa bedanya? Bedanya adalah Ismail ingin mengatakan: ”Wahai ayah! Ini bukan perintahmu, dan juga bukan perintah ibuku, tapi ini adalah perintah Allah, ayah tidak perlu meminta pendapatku lagi, laksanakanlah!
Juga Ismail ingin mengatakan: “Wahai ayah! Jika Allah memerintahkan, sebelum engkau menyembelihku untuk mencopot mataku, memotong telingaku, atau lidahku, akupun siap menerimanya”.

Hasil Pendidikan
Mungkin orang bertanya, bagaimana Ismail bisa menjadi anak yang setaat itu? Jawabannya adalah itulah hasil Pendidikan dan pengarahan ayahnya. Ibrahim maskipun sibuk dengan jadwal dakwahnya di Iraq dan di Palestina, beliau tetap menyempatkan waktu untuk berjalan kaki, menengok dan mendidiknya di Makkah. Karena tidak mungkin anak akan menjadi taat dan soleh dengan sendirinya, tapi memerlukan bimbingan, harus diarahkan dan dididik, itulah sunnatullah.
Yang kedua adalah karena doa Nabi Ibrahim sebelum dikaruniai anak, belaiu tidak hanya meminta keturunan tapi tapi juga soleh:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (Q.S 37:100)

Itulah sebabnya Ibrahim tidak langsung menyembelihnya ketika Ismail tidur atau lengah, tapi ditanya pendapatnya terlebih dahulu. Kenapa? Karena Nabi Ibrahim ingin tahu, apakah doánya dikabul atau tidak, bahwa anaknya menjadi anak yang soleh atau tidak.

Ibu Nabi Musa (AS)
Ketika Allah mewahyukan kepada ibunya Nabi Musa (AS), seperti dalam firmannya:
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” (Q.S 28:8).

Maka ibunya langsung melaksanakan perintah tersebut. Dia tidak bertanya misalnya: “Ooo.. Allah apakah ada cara lain yang lebih baik dan lebih selamat? Dia betul-betul menyerah dan bertawakal kepada Allah.

Siti Hajar
Ketika Nabi Ibrahim (AS) meninggalkan Siti Hajar dan bayinya Ismail di tengah-tengah padang pasir yang tandus yang tidak ada sumber air ataupun pepohonan, Siti Hajar hanya bertanya: “Wahai Ibrahim apakah ini perintah dari Allah? Ketika Ibrahim membenarkannya, maka Hajar berkata: “Kalau begitu pergilah engkau, Allah tidak akan menelantarkan kita”.

Lihat Hasil Berserah Diri Kepada Allah Nuh (AS)
Waktupun berjalan, dan datanglah banjir yang menimpa kaum Nabi Nuh (AS), dan kapal yang dibangunnya telah menyelamatkannya dan orang-orang yang beriman kepadanya.

Ibrahim (AS)
Ketika Nabi Ibrahim (AS) sudah meletakkan pisau tajamnya dileher Ismail (AS), tiba-tiba terdengar panggilan:
وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ
Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata”.
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar ” (Q.S 37:105-107).

Kesimpulannya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih, karena tujuan perintah penyembelihan adalah merupakan ujian kepada Nabi Ibrahim itu sendiri. Nabi Ibrahim dahulu hanya cinta kepada Allah SWT, namun setelah dikaruniai anak, maka cintanya terbagi dua, cinta kepada Allah dan kepada anaknya. Tapi Ibrahim lulus dalam ujiannya, karena beliau telah membuktikan bahwa kecintaannya kepada Allah lebih besar.

Ibu Nabi Musa (AS)
Demikaian juga apa yang terjadi kepada ibunya Nabi Musa AS, karena dia telah dengan mematuhi perintah Allah, maka justru air sungai itu telah menjadi semacam pembawa surat ke kerajaan Firaun. Dan tidak lama kemudian bayi itu kembali ke pangkuannya untuk disusuinya.

Siti Hajar
Hasil dari kepasrahan dan tawakalnya Siti Hajar, maka tanah yang tandus itu akhirnya menjadi tanah suci dan kiblat kaum muslimin dari seluruh dunia sampai hari kiamat. Disamping munculnya sumber air, yaitu sumur zam-zam

Kesimpulan
Jadi kunci kesuksesan di dunia dan akhirat adalah dengan Istislam (menyerah kepada Allah), atau yang disebut ‘Sami’na wa Atona’, kami mendengar dan kami taat.

Oleh karena itu kalau anda ingin sampai dan diridhoi oleh Allah, maka taatilah perintah-perintahNya tanpa masuk dalam perincian tentang hikmat dari perintah-perintah tersebut. Serahkan diri kepada Allah dengan apa yang diinginkan-Nya, maka Dia akan memberikan apa yang anda inginkan.

  • Imam Mesjid Ar-Rahman, Redmond – Washington State USA

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed