by

KUR Antarkan Jadi Juragan Toge

BOGOR (iHalal.id) — Kredit Usaha Rakyat (KUR) kian terbukti bisa mengantarkan seseorang berhasil dalam mengembangkan usaha bisnisnya. Seperti ditunjukkan oleh Heri Kiswanto (33), yang kini menjadi juragan toge yang antara lain berkat dimodali KUR dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp 500 juta.

Diketahui, toge atau tauge adalah kecambah yang berasal dari tanaman kacang hijau.Toge dipanen ketika kacang hijau yang ditanam membentuk kecambah. Perlu waktu 3-5 hari untuk menjadikan kacang hijau menjadi toge. Tige berbentuk panjang dengan kepala di ujungnya. Kepala tersebut adalah biji kacang hijau yang membelah.

Diketahui, toge adalah salah satu jenis sayuran yang banyak digunakan masyarakat untuk berbagai  masakan. Tak ada toge, suatu masakan rasanya kurang lengkap. Toge selalu ada di  soto ayam, mi kocok, gorengan bakwan atau bala-bala, kupat tahu, laksa, asinan, dll. 

Selain mudah ditemukan, harga toge juga relatif murah. Setiap kantong, yang beratnya seperempat kilogram, dijual Rp 5.000 oleh pengecer di pasar. Jumlah yang cukup digunakan bagi keluarga kecil untuk dua kali memasak.

Meliat peluang kebutuhan toge di masyarakat membuat Heri  memberanikan diri memulai usaha.

Pada awalnya tahun 2010 ia membiayai sendiri (self finacing). Namun, usahanya tak berjalan mulus. Hambatan pasar hingga persoalan pemilihan biji yang akan disemai menjadi kendala.

Heri terus berusaha. Ia menjadi tahu bahwa kacang hijau lokal kurang bagus untuk dijadikan toge. Akhirnya dipilih kacang hijau impor terutama dari Afrika sebagai bahan bakunya. Bahan baku itu kini selalu dikirim ke kediaman Heri yang menjadi tempat produksinya, di Babakan Kemasan RT 02 RW 02, Cilebut Barat, Sukaraja, Bogor.

Dengan ketekunan mengenal jenis biji kacang hijau dan perlakuan khusus untuk masing-masing tipe kacang impor itu, perlahan toge yang disemai semakin baik. “Untuk pemula, 1 kilogram kacang bisa jadi 5 kilogram toge. Kalau saya [mahir] sekarang bisa 7,5 – 8 kilogram,” kata Heri di Bogor, Sabtu (15/2/2020).

Heri bercerita, toge yang dihasilkan ini kemudian dijual ke pengecer Rp 5.500 per kilogram. Heri menyebutkan saat ini importir menjual biji kacang hijau Rp 18.700 per kilogram. Dengan begitu ia dapat mengantongi margin 30 persen sampai 40 persen dalam setiap satu kilogram toge panen.

Diungkapkan, dalam usaha toge, tantangan utama adalah air bersih. Heri menyebutkan, air yang dibutuhkan untuk usaha toge bersumber dari tanah dalam.

Air yang biasanya ditemukan 100 meter lebih di dalam tanah ini memiliki ciri yang bersih dengan tingkat keasaman (PH) stabil. “Saya sudah 9 kali menggali dan gagal. Sekarang baru ada 1 titik yang sesuai. Setiap meternya dulu Rp 400.000, sekarang sekitar Rp 500.000,” katanya.

Usaha Heri perlahan membesar. Awalnya ia mengandalkan keuntungan usaha untuk meningkatkan usahanya. Setelah 7 tahun berusaha Heri mampu memproduksi 1 kwintal kacang (100 kilogram) setiap hari atau 750 kilogram sampai 800 kilogram panen toge.

Berbekal tekad membesarkan usaha, Heri kemudian mengajukan pinjaman Rp 500 juta BNI.  Dana ini digulirkan untuk membesarkan usaha. Bibit kacang hijau yang biasanya dibeli sesuai kapasitas produksi per 5 hari, ditingkatkan menjadi 8 ton. Jumlah ini setara untuk bahan baku satu bulan produksi. Pasalnya, produksi ditingkatkan menjadi 2 kuintal kacang per hari atau 1,5 ton sampai 1,6 toge per hari.

Peningkatan pembelian bahan baku guna memastikan biaya produksi tidak melonjak tiba-tiba. Dengan bahan baku diimpor maka nilai tukar Rupiah sangat sensitif dengan biaya produksi.

Sementara itu, untuk memastikan produk terserap pedagang, Heri mengembangkan konsep memiliki lapak sendiri di pasar. Ia merekrut keluarganya atau orang dari kampung untuk bekerja di lapak dengan sistem bagi hasil. “Sekarang ada 21 lapak di sejumlah pasar sekeliling Bogor,” katanya. Sebut saj Pasar Bogor, Pasar Seketeng, Pasar Sukasari, Pasar Merdeka, Pasar Presiden, dan Pasar Jambu Dua. 

Pria asal asal Semarang, Jawa Tengah ini menyebutkan KUR membantunya mengembangkan usaha toge. Program ini memberikan modal kerja dengan bunga murah. Sementara pilihan ke BNI, menurut Heri karena kemudahan teknologi yang dimiliki oleh bank milik negara ini. “Pelayanan BNI sangat ramah dan sistem digitalnya memudahkan saya untuk membayarkan cicilan per bulannya,” ujar Heri.

Manajemen BNI menyebutkan peningkatan usaha toge yang Heri lakukan menjadi bagian dari penyaluran KUR BNI. Hingga Januari 2020 pihaknya telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 1,6 triliun, atau meningkat 20 persen dibandingkan penyaluran Januari 2019. (Sat)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed