by

Manusia Tidak Boleh Sombong

Oleh : Idat Mustari*

Allah Azza wa Jalla tak akan selamanya membiarkan manusia benar ucapannya, benar prilakunya. Tak akan selamanya sukses meraih harapannya. Tak akan selamanya berhasil mewujudkan semua impiannya. Tak akan selamanya benar instring, feeling atau dugaannya.Tak akan selamanya benar langkah dan keputusannya. Tak akan selamanya sehat. Tak akan selamanya doanya berwujud.

Jika manusia selalu sukses meraih harapannya, selalu berhasil mewujudkan semua impiannya, selalu benar keputusannya, selalu berwujud doa-doanya maka dipastikan dalam dirinya akan tumbuh benih benih kesombongan. Dan inilah yang paling tak dikendaki oleh Allah. Tak ada yang paling dibenci oleh-Nya kecuali ketika kesombongan bersemi dalam jiwa mahluk-Nya.

Lihatlah Fir’aun hidup dalam rentang usia yang sangat panjang, sampai 400 tahun dan dalam usia panjang yang dilalui itu tidak pernah ditimpa kesusahan. Dia juga tidak pernah sakit sedikitpun, baik sakit kepala atau kena virus corona hingga harus isoman, maka dengan pongahnya Fir’aun berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” Karena ini pula maka kemudian Allah tenggelamkan dalam lautan.

Lihatlah Haman, sosok seorang ilmuwan cerdas yang amat sombong karena merasa paling tahu tentang segala hal, terutama teknologi tercanggih pada masa itu. Dia tidak bisa menerima adanya manusia yang lebih tahu dan lebih pintar dari dirinya dalam hal apapun. Ia pun sama Allah tenggelamkan bersama Fir’aun. Dan atau Bal’am yang diianugerahi Allah kemampuan untuk melihat malaikat dan ‘Arsy. Kesombongan Bal’am karena menganggap bahwa dialah orang yang paling hebat masa itu, paling benar, paling ‘alim dalam ilmu agama dan orang yang doanya pasti terkabul dan mati dalam kengerian. Dan atau Qarun yang merasa kekayaan yang dimilikinya adalah karena kepandaian dirinya dalam berbisnis. Ia pun ditenggelamkan oleh Allah dalam bumi.

Pada saat manusia salah ucapannya, prilakunya adalah cara Allah untuk memanggil para hamba-Nya dengan penuh kelembutan agar mereka segera berlari menuju Ampunan-Nya.

Pada saat manusia telah merasa lelah dan hampir menyerah adalah cara Allah agar manusia segera menghamparkan sajadah. Pada saat harapan semakin pudar, dan upaya pun terasa hambar, adalah cara Allah agar manusia menyeru kepada-Nya,” Ya Allah, Tidak ada Tuhan selain Engkau.Tuhan Tujuh langit dan Tuhan Arasy Yang Agung.”

  • Kolumnis, Budayawan, Lawyer, tinggal di Bandung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed