Memaknai Keberkahan Ramadan (bagian – 27)

Oleh: Imam Shamsi Ali*

Manusia dengan segala potensi yang Allah karuniakan kepadanya memiliki keterbatasan dalam segala hal. Manusia memiliki potensi di atas semua makhluk yang lain, baik potensi kebaikan maupun potensi hewani. Manusia bisa lebih mulia dari malaikat. Tapi bisa juga lebih jahat dari hewan.

Poinnya adalah sehebat apapun, sepintar apapun, sekuat apapun, dan sekuasa apapun, manusia terbatas pada semua kelebihan-kelebihan yang Allah karuniakan itu. Sejarah mencatat Fir’aun sebagai seseorang dengan kekuasaan yang dahsyat. Tapi pada akhirnya naif menolong diri sendiri dari serangan gelombang air laut yang lebih dahsyat. Qarun yang kaya raya tapi tak mampu menyuap serangan alam yang menenggelamkannya.

Sejarah mencatat orang-orang yang kuat dan hebat, di masa silam dan juga dalam waktu yang belum terlalu lama. Selain Fir’aun yang disebutkan di atas, juga pernah ada penguasa lain seperti Namrud yang dimatikan oleh seekor nyamuk. Atau penguasa-penguasa abad ini yang belum lama menjadi tanda-tanda bagi mereka yang berakal. Ada Saddam Husaen, Muammar Qaddafi, juga Husni Mubarak dan lain-lain. Semua adalah penguasa-penguasa yang hebat dan kuat. Tapi tumbang pada masanya sebagai pertanda keterbatasan dalam kekuasaan mereka.

Sebenarnya yang ingin saya garis bawahi adalah keterbatasan dan kelemahan manusia. Di saat situasi memaksanya, mau atau tidak, mencari pegangan yang tiada lemah dan tiada batas (al-urwatul al-Wutsqo). Dan seringkali kesadaran akan pegangan yang tiada lemah dan tiada batas ini hanya terjadi ketika manusia mengalami masa-masa yang menghimpit tadi. Seolah semua telah tertutup. Semua telah selesai dan berakhir.

Di saat-saat seperti itulah manusia (kita semua) disadarkan akan Dia Yang Maha Kuat dan tiada batas. Dia Yang Mencipta, memilki, menguasai dan mengatur segala hal yang eksis (maujud) di semua alam. Baik alam lahir maupun alam batin.

Kesadaran akan Dia yang Maha kuat dan tiada batas itu menjadikan manusia tersadarkan akan keterbatasannya dan tertuntut untuk bergantung dan memohon kepadaNya. Esensi dari keimananan sebenarnya ada pada hal ini. Berserah diri secara penuh, bergantung kepadaNya (bertawakkal) dan sekaligus menyampaikan harapan (doa) hanya kepadaNya.

Bulan Ramadan sejatinya juga menjadi bulan keberkahan pada sisi ini. Kita belajar membangun kesadaran akan keterbatasan dan kelemahan, sekaligus menyadari akan Wujud Yang tidak terbatas dalam kuasa dan QudrahNya.

Kesadaran ini yang kemudian terekspresikan dalam sikap tawakkal dan doa yang dipanjatkan hamba-hambaNya. Puasa Ramadan menanamkan nilai tawakkal itu. “Dan sempurnakan bilangan hari puasa dan besarkan Allah” (Al-Baqarah: 185). Besarkan Allah bermakna sebagai kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan kita di hadapan Allah Yang Maha Besar.

Allah melanjutkan: “dan jika hambaKu bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) katakan “Aku dekat”. Aku perkenankan doa siapa yang berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka memenuhi ajakanKu dan beriman kepadaKu. Dan Semoga mereka mendapatkan petunjuk” (Al-Baqarah: 186).

Doa dan tawakkal adalah dua keberkahan tersendiri yang Allah hadirkan di bulan Ramadan. Semoga sikap tawakkal kita di tengah ragam goncangan kehidupan semakin kuat di bulan Ramadan ini. Sekaligus semakin menyadakrkan bahwa di tengah terpaan goncangan hidup itu ada Dia yang mengendalikan segalanya. Karenanya padaNyalah semata kita memohon dan menaruh harapan. Semoga!

NYC Subway, 26 April 2023

  • Presiden Nusantara Foundation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *