by

Mencontoh Magelang Mendatangkan Banyak Wisatawan

MAGELANG (iHalal.id) — Boleh jadi hampir tidak ada orang yang tidak tahu Candi Borobudur. Sebagai salah satu keajaiban dunia, Candi Borobudur sejak dulu menjadi magnet bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang berkunjung. Betapa kemegahan candi itu nyata terlihat jelas sekali. Namun, kiranya sedikit yang tahu bahwa candi terbesar itu berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bukan di DI Yogyakarta.

Menurut situs Wikipedia,  candi ini terletak kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso mengakui, banyak yang menduga candi terbesar itu berada di Yogyakarta. Selain itu, jika dinyatakan candi terbesar berada di Magelang, berarti pemasukan Magelang akan sangat melimpah. Benarkah?

Ternyata, menurut Iwan, Candi Borobudur dikelola oleh Bafan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Taman Candi Wisata Borobudur (Persero). “Jadi Magelang mendapat keuntungan tidak langsung dari ramainya Borobudur,” ujarnya dalam Media Gathering Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) yang diselenggarakan Biro Komunikasi Publik (Komblik) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di MesaStalia Resort and Spa Magelang, Rabu Malam (10/7/2019).

Banyak wisata yang kemudian ikut bergerak, ikut berdenyut. Dengan sendirinya banyak wisatawan datang berkunjung ke Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dengan keberadaan itu, pantas jika Magelang menjadi mesin penggerak pariwisata di destinasi branding Joglosemar (Jogya, Solo, dan Semarang) yang tahun ini ditargetkan  dikunjungi 2 juta wisman.

Target itu, ujar Iwan, adalah sebesar 10 persen dari target nasional pada 2020 sebesar 20 juta wisman. “Dari 2 juta wisman tersebut, 500.000 wisman di antaranya datang ke Candi Borobudur sebagai ikon pariwisata nasional serta destinasi pariwisata super prioritas,” katanya.

Iwan  pada kesempatan itu menjelaskan, posisi Magelang yang berada di episentrum atau pusat destinasi Joglosemar sangat diuntungkan karena dikunjungi wisatawan (wisman dan wisnus) dari tiga arah; Semarang, Jogja, dan Solo. Ketiga kota itu masing-masing didukung infrastruktur bandara internasional. “Pariwisata Magelang didukung unsur 3A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas) yang memadai sehingga menjadi destinasi andalan di Joglosemar,” katanya.

Sementara itu untuk amenitas, kata Iwan, Magelang memiliki hotel berbintang, resort, serta homestay yang tersebar di 51 desa wisata termasuk di desa pinggiran komplek Borobudur. “Pengembangan pariwisata di Magelang mengedepankan pengembangan berbasis komunitas atau ‘community based development’. Usaha pariwisata melibatkan masyarakat setempat,” katanya.

Ia mengatakan, Magelang juga memiliki atraksi budaya, alam, dan buatan yang dikemas dalam wisata petualangan dan sport tourism. Dua atraksi sport tourism yakni Borobudur Marathon dan MesaStila Peak Challange yang setiap tahun mendatangkan banyak wisman. Borobudur Marathon bahkan telah masuk Top-10 dalam 100 Calender of Event (COE), sedangkan MesaStalia Peak Challenge memasuki tahun ke-9 yang tahun ini bernama MesaStila100.

“Penyelenggaraan MesaStila100 tahun ini akan berlangsung pada 4-6 Oktober 2019. Pada penyelenggaraan tahun lalu diikuti 406 peserta, 107 di antaranya dari mancanegara atau mewakili 25 negara,” kata Manager MesaStila Laila Purnamasari menambahkan.

Experience Tourism
Sementara itu Kepala Biro Komunikasi Publik  Kemenpar Guntur Sakti mengusulkan agar Magelang menjadi destinasi pertama yang menjual experience tourism  dengan memperkuat story telling pada porfopolio bisnis pariwisatanya (culture, nature, dan manmade).

Story telling itu akan membuat wisatawan menjadi penasaran untuk datang ke Magelang. “Secara khusus Wapres Jusuf Kalla meminta kepada Menteri Pariwisata Arief Yahya untuk membuat story telling Borobubur agar lebih menarik di kalangan milenial,” kata Guntur Sakti.

Pesan dari story telling tersebut, kata Guntur Sakti, dapat disesuaikan dengan target audiensi yang akan disasar. Misalnya, target audien dari kelompok anak-anak diharapkan mereka akan mudah memahami sehingga bisa menjadi influencer karena mereka dapat menceritakan mengenai Borobudur dengan lebih baik.

“Magelang yang memiliki 5 gunung, 15 candi, dan 210 daya tarik wisata petualangan tentunya menjadi ladang yang menarik untuk story telling. Wisatawan akan dibuat penasaran untuk mendapatkan pengalaman atau experience tourism ketika berkunjung ke Magelang,” kata Guntur Sakti.

Pengembangan pariwisata Magelang, menurut Ketua Pesona Magelang (Pesma) Syahrudin, tidak lagi tersentral ke Candi Borobudur melainkan sudah menyebar ke berbagai destinasi sehingga kini tumbuh banyak daya tarik wisata baru di antaranya wisata petualang (adventure) yang dikelola masyarakat setempat (komunitas).

Banyak produk pariwisata baru yang dikelola masyarakat antara lain Arung Jeram Sungai Elo, pemandian air hangat Candi Umbul, Ketep Pass, petualangan (tracking) Gunung Andong, dan agrowisata Kebun Kopi (coffee plantation) di sekitar MesaStila Resort and Spa Magelang. Di resort MesaStila, pengunjung bisa menikmati suasa alam yang sejuk kebun kopi. 

Pengunjung kiranya akam terkesan dengan acara yang dikemas pihak resort dimana bisa mendapatkan pengetahuan tentang kopi dan sekalihua menimmatinya. Di perkebunan itu diketahui banyak pohon kopi jenis robusta, selain juga javaness, exelsa, dan arabika. Kita bisa menyaksikan proses penggilingan dan cara memasak kopi. Sungguh mengesankan.

Tahun lalu jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Magelang mencapai 6,36 juta terdiri atas 5,9 juta wisnus dan 350.000 wisman yang sekitar 80 persen di antaranya mengunjungi Candi Borobudur. Sementara, pada 2019 target kunjungan wisatawan ke Magelang sebesar 7 juta terdiri atas 6,5 juta wisnus dan 500.000 wisman yang sebagian besar mengunjungi Candi Borobudur serta destinasi wisata di sekitar Kabupaten Magelang.*

MesaStila, pengunjung bisa menikmati suasa alam yang sejuk kebun kopi. 
Pengunjung kiranya akam terkesan dengan acara yang dikemas pihak resort dimana bisa mendapatkan pengetahuan tentang kopi dan sekalihua menimmatinya. Di perkebunan itu diketahui banyak pohon kopi jenis robusta, selain juga javaness, exelsa, dan arabika. Kita bisa menyaksikan proses penggilingan dan cara memasak kopi. Sungguh mengesankan.

Tahun lalu jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Magelang mencapai 6,36 juta terdiri atas 5,9 juta wisnus dan 350.000 wisman yang sekitar 80 persen di antaranya mengunjungi Candi Borobudur. Sementara, pada 2019 target kunjungan wisatawan ke Magelang sebesar 7 juta terdiri atas 6,5 juta wisnus dan 500.000 wisman yang sebagian besar mengunjungi Candi Borobudur serta destinasi wisata di sekitar Kabupaten Magelang. (Sat)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed