by

Menengok Kesiapan Lima Kompleks ICS ACT di Sulteng

PALU, SIGI, DONGGALA (iHalal.id) — Malam selepas magrib di Kompleks Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) Duyu cukup senyap. Suara palu yang bertaut dengan paku seperti beberapa malam sebelumnya tidak lagi menggema. Kamis (15/11), hanya perbincangan yang sesekali terdengar dari para jemaah yang melintas usai pulang salat Magrib di Masjid ICS. Mereka adalah masyarakat terdampak gempa bumi dan likuefaksi yang tinggal di tenda sekitar ICS Duyu.

Tim Relawan ACT terus bekerja membantu korban gempa Palu, Sigi dan Donggala (Foto: Dok. ACT)

Lapangan sepak bola RT 01 dan RT 02 Kelurahan Duyu itu kini bukan sekadar tanah lapang. Setelah dijadikan tempat mengungsi, kini enam blok hunian didirikan di atasnya. Sebuah tempat tinggal pengganti bagi para penyintas bencana gempa bumi dan likuefaksi. ICS di Kelurahan Duyu menjadi salah satu hunian yang penggarapannya nyaris rampung.

“Alhamdulilah, kalau progres pembangunan hunian di Kelurahan Duyu sudah 95 persen selesai, 5 persennya sedang finishing. Masih ada progres pengeboran sumur dan penataan untuk taman,” jelas Koordinator Pembangunan ICS Dede Abdul Rohman.

Dede menjelaskan, ICS di Kelurahan Duyu nantinya akan diperuntukkan bagi para penyintas di kelurahan Duyu, Lere, dan Balaroa. Calon penghuni diprioritaskan pada ibu hamil, ibu dengan bayi, dan keluarga yang memiliki lansia. “Kami berkoordinasi dengan koordinator warga, lurah, dan ketua RT mengenai penghuni yang diprioritaskan,” lanjut Dede.

Hingga Senin (19/11) Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah membangun lima kompleks hunian nyaman terpadu di Palu, Sigi, dan Donggala. Di Kota Palu, ICS didirikan di Kelurahan Duyu dan Kelurahan Buluri, Kompleks ICS juga didirikan di Desa Sibalaya Utara dan Desa Lolu di Kabupaten Sigi, sedangkan di Kabupaten Donggala lokasinya terletak di Desa Wani, Kecamatan Tanantovea.

“Ada lima lokasi serentak yang dibangun. Di Sibalaya Utara ada 60 unit, sejauh ini pembangunan sudah 85 persen, masih tersisa pengerjaan taman dan perapihan cat. Wilayah lainnya, (ICS di desa) Wani masih 40 persen, sedangkan di Kelurahan Buluri-yang paling baru, ada 40 relawan tukang yang disiapkan,” ungkap koordinator asal Jawa Barat itu.

Lebih lanjut, Dede menjabarkan, Senin (19/11) pembangunan ICS di Kelurahan Buluri telah memasuki hari ke delapan. Sebelumnya, di hari Sabtu (17/11), sejumlah relawan konstruksi terlihat memasang atap dan pasak kayu. Akan ada 96 unit shelter yang dibangun di kelurahan tersebut. Nantinya, ICS ini akan diperuntukkan bagi masyarakat terdampak tsunami di kelurahan tersebut.

Hunian Nyaman Terpadu merupakan kompleks tempat tinggal berintegrasi. Sebab itu, tidak hanya hunian yang didirikan, tetapi juga sejumlah fasilitas umum, seperti masjid, MCK, posko kesehatan, dapur umum, taman bermain anak, dan sekretariat.

Sejak digarap akhir Oktober lalu, dua dari tiga ICS siap digunakan, yaitu ICS di Desa Sibalaya Utara dan ICS di Kelurahan Duyu. Sedangkan tiga lainnya, yakni ICS di Desa Lolu, Desa Wani, dan Kelurahan Buluri masih tahap pembangunan.

Hingga Senin (19/11) pagi, laporan perkembangan pembangunan ICS menunjukkan, 95 persen tahapan selesai untuk ICS Duyu, 80 persen pengerjaan ICS di Sibalaya, 55 persen untuk ICS di Desa Wani, 25 persen pengerjaan di Desa Lolu, dan 20 persen untuk Kelurahan Buluri.

“Lima lokasi kita kebut supaya pengungsi bisa menempati segera. Sebab cuaca di Palu ini memang sangat panas. Target akhir bulan (November) semua shelter di lima lokasi selesai. Dan nanti akan menggarap lagi lokasi-lokasi baru,” papar Dede. Sejauh ini, ACT telah menggarap 500 unit hunian nyaman terpadu dari target 1000 unit hunian. Pembangunan ICS merupakan langkah yang dipilih ACT di fase pemulihan.

“Target Desember, seribu hunian rampung. Mudah-mudahan dengan target 1.000 shelter berjalan baik dan lancar,” doa Dede.

Tantangan yang harus ditaklukkan

Mendirikan 1.000 unit hunian ternyata tidak terlepas dari tantangan. Dede juga bercerita, kelangkaan sejumlah material bangunan menjadi tantangan tersendiri. “Sumber material paling banyak ada di kota Palu. Untuk Sigi dan Donggala juga dari Palu, nah (material di kota) Palu itu dari Makassar. Sebab itu, saya juga membuka selebar-lebarnya mitra untuk bahan material,” jelas Dede.

Selain material, Dede pun menekankan kerja tim yang solid harus selalu dijaga. Ia mengaku, sebagai koordinator pembangunan juga harus memahami keadaan tim hingga personilnya. “Saya memantau semua. Saya memerhatikan tim, baik kesehatan maupun support makanan dan gizinya,” ungkap penggagas program Sekolah Tepian Negeri ACT itu.

Guna kelancaran koordinasi, Dede membentuk tim koordinator berjumlah empat orang yang diandalkan untuk berbagi wilayah dan laporan di masing-masing tempat. (Adh)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed