by

Mentafakuri Kisah Lauren Booth Adik Ipar Mantan PM Inggris Tony Blair

Oleh: H. Idat Mustari*

Ketika saya mendapat kiriman video Laurn Booth, Adik ipar mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair yang menceritakan pengalaman spiritualnya hingga akhirnya memeluk Islam. Padahal sebelumnya ia sangat membenci Islam, dalam bayangannya orang Islam paling suka menggorok leher non muslim. Namun Allah memberi hidayah kepadanya ketika ia terlibat sebagai wartawan di Gaza Palestina.

Lauren Booth hatinya mulai tertarik dengan Islam


Pertama, ketika ia berada di jalan pada bulan dengan lengan dan rambut terbuka, tak ada seorang pun dari penduduk muslim Gaza yang menyambut dengan wajah kebencian, melainkan sambutan dengan senyum yang ramah dengan ucapan salam.


Kedua, ketika ia berkunjung ke keluarga miskin di Gaza yang sedang berpuasa. Bahkan ia menyampaikan kemarahannya kepada Allah, kenapa orang miskin harus puasa. Dan bergetar hatinya ketika ia mendapat jawaban,”Saya berpuasa di bulan Ramadhan untuk mengingat (kesusahan) orang miskin,” kata ibu itu menjawab pertanyaan Lauren.

“Dia tidak punya apa-apa dan saya tidak bisa memahaminya. Kenapa dia bisa puasa untuk mengingat (susahnya) orang lain? Bagaimana dia mengingat kemiskinan orang lain sementara dia sendiri tidak punya apa-apa?” tutur Lauren sambil terisak.

Saat itu, terlintaslah di benaknya seputar pemikirannya tentang Tuhan, Islam dan menjadi Muslim.

“Jika ini adalah Islam saya ingin jadi Muslim. Jika kasih sayang Tuhan berbentuk sebuah agama, maka saya ingin agama itu. Jika kasih sayang kalian kepada sesama meski dalam keadaan sulit berbentuk sebuah agama, maka saya ingin masuk agama itu. Dan jika kasih sayang kepada para musafir berbentuk sebuah agama, maka izinkan saya jadi Muslim. Subhanallah,” kata Lauren.

Ia masuk Islam bukan karena membaca AlQuran. Ia masuk Islam bukan karena bisikan Ghaib. Tapi ia masuk Islam karena melihat ahlak seorang muslim.

Menjadi seorang muslim yg baik tak cukup hanya dengan menghapal ratusan ayat, puluhan surat,  Al Qur’an, bukan pula hanya sekedar dengan menggerakan tubuh dalam shalat,bukan pula puasa  hanya sekedar menahan makan minum.

Salam dari akhir shalatnya harus berwujud nyata dalam dirinya dengan membuat orang di sebelah kanan-kirinya merasa aman dan nyaman. Salamnya harus mampu bukan saja menyelamatkan dirinya melainkan juga menyelamatkan orang lain. Salamnya bukan saja mensejahterakan dirinya tapi juga orang lain. Puasanya menumbuhkan rasa empati   di hati melihat orang yang sedang di rundung kesulitan, dan duka, sekalipun dirinya sedang berada dalam kesulitan dan duka.

Inilah hakikat agama, dan seseorang disebut beragama ketika ia telah berahlaq baik, begitu Sabda Nabi SAW.

  • Kolumnis, Penulis Buku, tinggal di
    Bandung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed