by

Menumbuhkan Percaya Diri

oleh: Yanuardi Syukur S.Sos., MS.i*

Suatu ketika ada seekor singa dan manusia melakukan perjalanan di hutan. Mereka satu rombongan. Di tengah jalan, mereka bertengkar dan masing-masing membual bahwa kaumnya lebih unggul dalam kekuatan dan pikiran.

Tiba di sebuah tempat terbuka di hutan, mereka melihat sebuah patung. Patung itu menunjukkan Hercules, lelaki yang dipercaya orang Yunani sebagai divine protector of mankind, “pelindung suci umat manusia”, putra Zeus dan Alcmene, yang berhasil merobek rahang singa Nemea.

“Lihat,” kata pria itu kepada singa dan rombongan, “betapa kuatnya kita! Raja hutan itu seperti lilin di tangan kita!”

“Ho!” Sang singa tertawa, “Manusia yang buat patung itu. Pasti, itu akan jadi pemandangan yang berbeda jika singa yang membuatnya.”

Cerita pahlawan Yunani ini masyhur dalam bahasan percaya diri. Dalam mitologi Yunani, fight Hercules kepada singa Nemea adalah tugas pertama. Sebuah misi yang impossible awalnya.

Ketika gagal melumpuhkan singa berkulit kebal senjata itu, Hercules memilih melawan tanpa senjata. Dia berhasil, jadi possible, dan akhirnya dia pakai kulit singa itu sebagai jubah pelindungnya.

Dari cerita itu terlihat bahwa pemimpin itu lahir dari “capaian-capaian kecil” yang terakumulasi menjadi “capaian-capaian besar.”

Kita yang mengikuti kekuatan Hercules itu akan mengatakan: “Percaya diri bisa mengalahkan ketidakmungkinan.” Tapi, dari sudut lain, singa juga punya pandangan berbeda. Jika patung itu dibuat oleh singa, maka singalah yang pasti menang.

Jika dibawa pada kehidupan, kita jadi mengerti bahwa kepercayaan diri itu sangat penting, dan dalam banyak hal menentukan keberhasilan kita dalam melewati tantangan. Siapa percaya diri, dia berhasil. At least, berhasil pada langkah pertama.

Siapa yang bercerita, dia yang menang. History is always written by the winners. Leigh Teabing, sejarawan Oxford dengan spesialisasi holy grail, dalam karakter novel detektif-misteri karya Dan Brown, The Da Vinci Code (2003), mengucapkan kalimat menarik:

“Sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Ketika dua budaya bentrok, yang kalah dilenyapkan, dan pemenangnya menulis buku-buku sejarah, buku-buku yang mengagungkan tujuan mereka sendiri dan meremehkan musuh yang ditaklukkan. Seperti yang pernah dikatakan Napoleon: Apa itu sejarah, kecuali dongeng yang disepakati?“

Semua kita–yang telah berhasil lahir sampai detik ini–adalah para pemenang. Maka, penting untuk selalu mengejar kemenangan dengan percaya pada potensi diri, dan berjuang mewujudkan impian-impian dalam hidup.

Terkadang, kegagalan itu muncul. Tapi, itu sangat normal. Semua orang pernah gagal. Yang penting bukanlah peristiwa kegagalan, tapi bagaimana kita bangkit dari kegagalan tersebut.

Dalam perang, orang Tiongkok yakin: “hanya ada 36 strategi di bawah langit.” Strategi nomor 36 terjemahannya begini: “Jika seluruhnya gagal, mundur!” Mundur untuk kembali. Lari, konsolidasi, dan persiapkan untuk bertempur di lain waktu.

Prinsip perang Tiongkok: Kalau pihak Anda kalah, hanya ada 3 pilihan: menyerah, kompromi, atau melarikan diri. Menyerah adalah kekalahan total, kompromi adalah setengah kalah, tapi melarikan diri bukanlah sebuah kekalahan.

Motivasi mereka: “Selama Anda tidak kalah, Anda masih memiliki sebuah kesempatan untuk menang!”

“Ingatlah bahwa tujuan Anda adalah memenangkan perang, bukan setiap pertempuran,” demikian strategi ke-36. Semacam strategi hidup yang berbasis pada kepercayaan pada diri sendiri.

Semangat sang singa di atas adalah motivasi dia untuk tetap percaya diri. Pun demikian strategi perang dari Tiongkok–3 hal itu–juga penting dalam menghadapi hidup yang tidak selalu menang. []

Bogor, 18 Februari 2021

Tentang Penulis;

Yanuardi Syukur S.Sos., MS.i adalah Dosen Universitas Khairun Ternate, menamatkan pendidikan di Ponpes Darunnajah Jakarta (1993-1999) dan melanjutkan S1 di Antropologi FISIP Unhas, S2 di Kajian Timur Tengah dan Islam UI dan saat ini tengah studi S3 di Antropologi FISIP UI. Menulis buku Islam, biografi, dan analisis sosial-budaya di beberapa jurnal. Yanuardi juga aktif sebagai Sekjen DPP Forum Dosen Indonesia dan Presiden Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed