by

“Mun Maot Tong Nyusahkeun Nu Hirup”

Oleh : Idat Mustari*

Di komplek tempat saya tinggal, bada shalat subuh berjamaah di masjid, sebelum pulang ke rumah, ada acara  NGOPI (ngobrol pagi) dengan beberapa orang jamaah masjid. Banyak topik yang di bahas; agama, sosial, ekonomi, bahkan kadang politik.

Satu saat di dalam obrolan pagi ini, salah seorang di antara kami, menyampaikan satu kalimat, yang kemudian menarik bagi saya untuk di tafakuri, ditadzaburi. Beliau menyampaikan dalam bahasa sunda, “ mun maot, abdi mah tong sampai nyusahkeun nu hirup .” (kalau saya mati, jangan sampai saya membuat susah orang yang masih hidup).

Lantas saya pun  bertanya sambil tersenyum :”Bagaimana caranya orang yang sudah meninggal membuat susah orang hidup?” Apakah si mayit berlari lari atau main petak umpet ? “

Belau pun menjawab : “Begini,satu ketika saya pernah takziah ke keluarga teman yang meninggal. Saya pikir akan dimakamkan di tempat pemakaman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah almarhum. Tapi ternyata di makamkan di tempat yang sangat jauh. Setelah ditempuh oleh kendaraan juga  harus berjalan kaki karena tempatnya berada di bukit yang belum ada jalan masuk untuk kendaraan. Dan baru saya tahu kenapa dikuburkan disitu ternyata ini wasiat almarhum sebelum meninggal. Maka saya ga mau seperti itu bikin susah yang hidup.”

Saya pun akhirnya paham salah satu makna dari pesannya,” MUN MAOT TONG NYUSAHKEUN NU HIRUP.” Pesan bagi kita yang masih hidup untuk tidak berwasiat ingin dikubur di tempat yang sulit dijangkau baik oleh tenaga, ataupun biaya. Tuk makan saja sulit. Mbo jangan berwasiat ingin dikubur di TPU Al Azhar Memorial Garden. Hehehe.

Ternyata “MUN MAOT TONG NYUSAHKEUN NU HIRUP” bukan saja tentang seputar kuburan melainkan banyak kandungan pesan kehidupan. Rasulullah saw jauh jauh hari sebelum wafat ketika mengumpulkan para sahabatnya. Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya aku akan pergi menemui Allah SWT, dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena Aku tidak mau bertemu dengan  Allah SWT dalam keadaan berhutang dengan manusia.” Pertanyaan ini Rasulullah SAW diulang hingga tiga kali.

Para Sahabat pun diam  dan dalam hati masing-masing berkata,” Mana ada Rasulullah  SAW berhutang dengan kita. Kamilah yang banyaj berhutang kepada Rasulullah SAW.”

Peristiwa itu mengajarkan kepada kita. Pertama ,  jangan sampai kita mati membawa hutang kepada orang lain. Bukan saja menyusahkan diri kita di akherat. Tapi juga menyusahkan orang yang hidup, karena  ahli waris  wajib menyelesaikan hutang-hutang kita . Jika tidak maka kita mati dalam keadaan berdosa sekalipun kita mati syahid. Rasulullah saw bersabda, “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR Muslim ).

Kedua , Kalau saja dalam hidup ini kita harus berhutang, maka sebaiknya diketahui oleh ahli waris. Jangan sampai ahli waris tidak mengetahui sebelumnya. Tiba-tiba kedatangan orang sambil menyodorkan surat perjanjian hutang kita. Mending kalau hanya ratusan ribu kalau jutaan, kan bikin puyeng tujuh keliling orang hidup.

Ketiga , Kalau sudah masuk ke usia senja maka berusahalah mengencangkan ikat pinggang dari keinginan dunia yang berlebihan. Sebab biasanya orang berhutang itu karena demi memenuhi keinginan syahwat dunianya.

Berqanaahlah, Berzuhudlah sebab kita tidak tahu datangnya kematian, agar kita mati tak bikin susah orang hidup.

Semoga Allah mengampuni dosa dan khilaf kita. Memberi Kecukupan pada dunia kita. Memberi jalan keluar dari kesulitan keuangan dan kesulitan-kesulitan lainnya. Aaminn Ya Rab.

*Pengamat Sosial dan Agama, tinggal di Bandung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed