by

Napoleon Bonaparte

Oleh : Idat Mustari*

Di Tahun 1769-1821,ada seorang pemimpin militer dan jadi Kaisar Prancis yang berhasil menaklukan sebagian besar Eropa, ia bernana Napoleon Bonaparte. Di jamannya bagi sebagian orang ia dianggap pahlawan, seoran pemimpin yang gagah berani, tapi tidak bagi musuh-musuhnya ia adalah sosok serakah, penjajah dan julukan negatif lainnya.

Di tahun 2021, ada seorang Perwira Tinggi polisi yang telah berani menghajar hingga babak belur seorang tersangka penista agama, yang melecehkan ajaran islam, M Kace, ia bernama Irjen Napoleon Bonaparte yang lahir pada 26 November 1965, di Sumatera Selatan.

Boleh jadi ada yang setuju dengan apa yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte, karena “ keheul’ (kesal) dan “ambek kapegung” (Marah tapi tak bisa tersalurkan) melihat gaya M Kace yang tersenyum-senyum bangga saat ditangkap—dibawa oleh penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Padahal kata Alm Buya Hamka “jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu. Jika ghiroh tidak lagi dimiliki oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dari segala sisi. Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati.”

Bagi yang tidak setuju pun punya alasan. Memukul—menganiaya orang lain tak dibenarkan dengan alasan apapun, salah dan melanggar hukum. Pendekatan Islam bukanlah pendekatan kekerasan melainkan pendekatan dakwah dengan cara Hikmah, Maw’idzah (nasihat) ataupun Jidal (berdebat) merujuk surat An-Nahl :125.

Napoleon Bonaparte yang lahir di perancis dan Napoleon Bonaparte yang lahir di Sumatera Selatan memiliki sifat yang sama yakni sama-sama memiliki keberanian. Napoleon Bonaparte ketika kasus penganiayaan yang dilakukannya heboh di media masa, membuat surat terbuka salah satu isinya :” Siapapun bisa menghina saya, tapi tidak terhadap Allah-ku, Al-Qur’an, Rasulullah SAW, dan akidah Islam-ku. Karenanya, saya bersumpah akan melakukan tindakan terukur apapun kepada siapa saja yang berani melakukannya.”

Tentu harapan kita sebagai rakyat biasa adalah tak ada lagi kasus penistaaan agama seperti yang dilakukan oleh M Kace, dan juga tak ada lagi cara-cara kekerasan dalam menyampaikan dakwah. Dan pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing untuk melihat—menilai ‘Napoleon Bonaparte’.

*Pemerhati Sosial dan Agama, Pengacara tinggal di Bandung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed