by

Pelajaran Berharga Dari Afghanistan; Peta Dunia Akan Berubah

Oleh: Ustadz Fathuddin Ja’far, MA.

Berita itu terkesan tiba-tiba. Kenapa tidak? Video para Petinggi Mujahidin Thaliban yang sedang mendengarkan lantunan Al-Qur’an surat An-Nashr sambil berdiri dalam Istana Kepresidenan Negara Afghanistan di Ibu Kota Kabul beberapa saat lalu begitu mengagetkan dan memukau.

Sejarah Afghanistan

Dalam hati terbetik pertanyaan keheranan : Kok cepat sekali mereka menguasai istana? Bukankah musuh mereka hampir semua kekuatan dunia yang dikomandoi AS yang dijuluki negara Adidaya dan polisi dunia?

Tentulah Ini kemenangan yang amat besar dan luar biasa

Kemenangan tersebut mereka raih setelah 20 tahun berjihad non stop melawan agresor dan penjajah terkuat di Dunia, yaitu AS dan sekutunya. Dengan bermodalkan Iman yang kuat, kemudian senjata yang biasa-biasa saja dan terbatas, mereka maju terus tanpa gentar sedikitpun. Mereka tidak pernah mengeluh, apalagi putus asa.

Dibandingkan kecanggihan senjata AS dan sekutu, teknis perang, modal tak terbatas dan pengalaman petang, Mujahidin Thaliban sangat jauh di bawah musuh mereka. Siapa yang tidak kenal AS dan sekutunya?

Sungguh fantastic…. Perjuangan yang berdarah-darah selama 20 tahun, lalu memasuki Istana tanpa pertumpahan darah yang berarti, pasti mereka diberi Allah kekuatan dan kewibawaan yang sangat luar biasa.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada Fathu Makkah (Penaklukan Kota Mekkah) oleh Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi waSallam dan para Sahabatnya pada 20 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, setelah 21 tahun berdakwah dan berjihad tanpa henti dengan jiwa dan harta.

Tuduhan Murahan Kepada Mujahidin Thaliban

Saat Mujahidin Afghan melawan agresor Uni Soviet dari tahun 1979 sampai 1992 (13 tahun), mereka juga dituduh dengan berbagai tuduhan murahan seperti pemberontak, fanatik, radikal, terbelakang dan seterusnya. Begitu pula yang dialami Mujahidin Thaliban.

Ketika AS tidak berhasil menegokan kepentingannya dengan para Pemimpin Thaliban yang menguasai Afghanistan sejak 1996, Pemerintahan AS mulai membuat skenario menjatuhkan pemerintahan Islam Afghanistan pimpinan Thaliban.

Pertama, melalui Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Semua media mainstream yang berpihak kepada AS dan Eropa, termasuk di sini, melabeli Mujahidin Thaliban dengan berbagi label murahan seperti kelompok Thaliban penganut Islam kolot, keras, fanatik, ekstrim, teroris, intoleran, diskriminatif terhadap kaum hawa, melarang kaum wanita menuntut ilmu, membiayai pemerintahan melalui ladang ganja, anti kemajuan dan segudang label murahan lainnya.

Kedua, melancarkan Ghazwul Askari (Perang Militer). AS merekayasa peristiwa serangan terhadap gedung kembar WTC 11 September 2001, agar dapat legalitas palsu dapat diraih. Tuduhan rontoknya gedung kembar WTC dan serangan ke Pentagon dalam waktu bersamaan diarahkan ke Usamah Bin Laden, pemuda Muslim milyarder Saudi yang saat itu tinggal dengan keluarga dan banyak sahabatnya di Afghanistan atas perlindungan Pemerintah Thaliban.

Presiden AS saat itu Gerge W. Bush ngotot agar Thaliban segera menyerahkan Usamah Bin Laden kepadanya dengan tuduhan otaknya keruntuhan gedung WTC yang menewaskan sekitar 4.000 orang yang ada di dalamnya. Jika tidak, Thaliban akan diusir dari pemerintahan dan Afghanistan akan dibumihanguskan.

Sebagai Mujahidin yang punya mental baja dan takut hanya kepada Allah karena tidak ada dasar hukumnya menyerahkan saudara Muslim kepada orang kafir, maka Pemerintah Thaliban menolak mentah-mentah permintan Presiden AS tersebut.

Akhirnya proposal Pemerintah/Presiden AS untuk melakukan penyerangan ke Afghanistan dengan berbagai alasan yang diada-adakan, utamanya menangkap Usamah Bin Laden hidup atau mati, secepat kilat mendapat persetujuan Kongres AS dan juga dukungan NATO dan negara Eropa lainnya.

Afghanistan dibombardir dari segala penjuru. Setelah beberapa lama, AS dan sekutu berhasil mengalahkan Mujahidin Thaliban.

Pemerintahan Thaliban dikudeta dan diganti dengan pemerintahan boneka. Didudukkanlah Hamid Karazay sebagai Presiden baru Afghanistan dan juga semua pimpinan lembaga negara dan pemerintahan, termasuk militer dan kepolisian diganti dengan orang-orang Afghanistan cetakan AS.

Kendati demikian, Mujahidin Thaliban tidak pernah menyerah, apalagi putus asa pada pertolongan Allah, kendati berhadapan dengan hampir seluruh kekuatan militer dunia.

Mereka melakukan konsolidasi, perang gerelia dan berdakwah di wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Perlahan, tapi pasti bahwa kemenangan itu pada akhirnya Allah anugerahkan kepada mereka.

Selama 20 tahun berjihad melawan kebiadaban AS dan pasukan sekutu, ribuan tentara AS mati, begitu juga dari negara lain yang ikut, bahkan tak kurang dari $1 Triliyun dihabiskan AS selama 20 tahun melawan Mujahidin Thaliban. Ajaibnya, seluruh senjata canggih AS dan sekutu sekarang sudah menjadi Ghanimah (harta rampasan perang) yang sah dan halal bagi Mujahidin Thaliban Afghanistan.

Ada pemutarbalikan fakta tentang Mujahidin Thaliban sejak awal mereka memimpin pemerintahan Islam di Afghanistan.

Mujahidin Thaliban tidak pernah melarang anak-anak wanitanya belajar di kelas, tidak diskriminatif terhadap kaum hawa, tidak pernah mewajibkan burqa/niqab pada wanita muslimah, karena hampir semua wanita Afghan sejak ratusan tahun sebelum kemunculan Thaliban sudah memakainya. Yang diwajibkan adalah menutup aurat sesuai tuntunan syariah. Mereka memiliki banyak ulama bermazhab Imam Hanafi. Tentulah pola hidup mereka sesuai aqidah, syari’ah, muamalah, politik, pemerintahan dan akhlak yang mereka pahami, bukan seperti maunya Amerika (Islam Amrikani) dan Eropa yang notabene menganut agama Nasrani dan Yahudi yang hampir seluruh pemerintahannya punya ketakutan, kecurigaan dan kebencian mendalam kepada Islam dan kaum Muslimin yang sekarang santer dengan istilah Islamofobia.

Tuduhan-tuduhan tersebut hanya ada dalam media Barat dan corongnya yang anti Islam yang lurus, Islam yang punya izzah dan tidak pernah menyerah kepada penjajah kaum kafir, baik secara militer (Ghazwul Askari), ekonomi maupun perang pemikiran (Ghazwul Fikri).

Mayoritas masyarakat Afghanistan sangat berbeda dengan mayoritas umat Islam di Indonesia. Di sini sangat toleran. Saking tolerannya bisa dijajah 3.5 abad oleh si kafir Londo (Belanda). Mau dikibuli bahwa kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara dengan motif ekonomi/dagang. Faktanya mereka memasukkan program Kristenisasi dan bahkan Yahudisasi, di antaranya melalui Tarekat Mason Bebas (Freemasonry) sejak pelukis Raden Saleh berada di Belanda.

Akhirnya kita dijajah 3.5 abad, melebihi lamanya penjajahan atas bangsa Bani Israel oleh keluarga Fir’aun yang hanya 3 abad.

Setelah tahun 1945, di mana pejuang-pejuang umat Islam berhasil mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, negeri ini tetap dikuasai dan dikendalikan Asing dan Aseng. Mereka berhasil memarjinalkan Islam dan umatnya dengan berbagai cara.

Zaman Orde Lama, umat Islam dibenturkan dengan Nasakom dan Komunis. 7 kata Piagam Jakarta dihapus. Peran politik Islam dihancurkan dengan membubarkan Partai Masyumi. Atas nama toleransi, umat Islam nerimo dengan redho.

Zaman Orba diteruskan marginalisasi itu dengan paksaan Azas Tunggal dan membuka kesempatan kepada Asing dan Aseng untuk menguasai ekonomi dengan alasan pembangunan.
Selama 32 tahun Orba, umat Islam kehilangan hak politik, ekonomi dan seterusnya.

Lalu tumbang Orba pada Mei 1998 dan diteriakkan lahirnya Orde Reformasi.

Sejak Orba tumbang sampai saat ini secara waktu sudah 22 tahun. Tak ada birokrasi yang reformasi. Kejahatan ekonomi dan kezaliman sistem tetap seperti dahulu kala. Kezaliman terhadap umat, tokoh dan ulama Islam semakin menggila.

Secara kepemimpinan sudah bongkar pasang sebanyak 5 kali. Yang paling lama jadi Presiden RI adalah SBY 10 tahun dan Jokowi sudah 7 tahun dan “mungkin” sampai selesai 2 periode, yakni 10 tahun. Anehnya ada pula yang mengusulkan sampai 3 periode, atau 15 tahun.

7 tahun saja, masyarakat, negara, bangsa, khusunya umat Islam Indonesia sudah morat marit dan babak belur dibuatnya. Apalagi sampai 2 atau 3 periode, Na’udzubillah..

Bangsa Afghanistan sejak masuk Islam sampai sekarang belum pernah dijajah. Satu-satunya negeri Islam yang tidak pernah dijajah dan selalu Allah berikan kemenangan pada mereka saat para penjajah menginjakkan kaki di atas tanah mereka.

Sekarang menyusul Gaza , sejak 2005, selalu menang melawan penjajah Yahudi di Palestina. Sehingga Gaza yang hanya sebesar kota Depok, satu di antara dua bumi Islam yang tidak bisa ditundukkan Yahudi di samping Afghanistan.

Bacalah sejarah. Mujahidin Afghan 3 kali mengalahkan Inggris

  1. Di zaman penjajahan Eropa atas negeri-negeri Muslim abad ke 19. Tahun 1839 Inggris menginvasi Afghanistan dan bertahan hingga 1842 (3 tahun). Sekitar 4.500 pasukan Inggris tewas dan 12.000 pasukan lokal boneka Inggris menghembuskan nafasnya di tangan para Mujahidin Afghan.
  2. Tahun 1878 Inggris mencoba lagi masuk ke Afghanistan berkolaborasi dengan kaum Sikh India. Akhirnya, Inggris hanya bertahan 2 tahun, yakni sampai tahun 1880 dan Inggris kalah total.
  3. 6 Mei sampai 8 Agustus 1919. Saat Pemerintahan Afghanistan menyerang India yang sudah jadi negara boneka Inggris. Akhirnya Inggris terpaksa mengajak damai setelah mendapat serangan dari Mujahidin Afghan.

Karakter Masyarakat Afghan

Sebagian besar bangsa Muslim Afghanistan itu memiliki spirit jihad yang luar biasa. Izzah (kebanggaan) pada Allah, Al-Qur’an, Rasulullah, Islam dan kaum Muslimin dan negeri Islam. Spirit tersebut sangat mendominasi diri dan alam pikiran mereka. Semua itu bagi mereka harga mati. Tak heran jika tak ada satupun kekuatan di dunia ini yang tidak bisa mereka kalahkan, dan ajaibnya tidak membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun (maksimal 20 tahunan), apalagi 3.5 abad.

Tahun 79 – 92, Mujahidin Afghan berhasil menghancurkan Uni Soviet sehingga berkeping-keping dan akhirnya bubar, padahal Uni Soviet saat itu satu dari 2 negara Adidaya dunia.

Nah, sejak tahun 2001, AS dan sekutu mencoba mengulangi kesalahan Inggris dan ex Uni Soviet. Persis 20 tahun saja, AS dan sekutu dicabut status negara Adidaya dan kecanggihan kemiliterannya oleh Mujahidin Thaliban dan Pulkam dalam kerugian yang amat besar dan kehinaan.

Banyak pengamat meyakini, di tangan Mujahidin Afghan itulah peta dunia berubah

Buktinya, di tangan Mujahidin Afghan perang dingin Barat Kapitalis VS Timur Komunis berakhir 1987 setelah konflik sejak 1817 (Revolusi Bolshavic Komunis ciptaan Yahudi).

Hari ini, pak Polisi Dunia (AS) dengan sekutunya, mengaku keunggulan Mujahidin Thaliban Afghanistan dan harus Pulkam dalam keadaan hina dan merugi besar.

Sebab itu, kemenangan Mujahidin Thaliban ini membuat ketar-ketir para petinggi Negara Yahudi yang ditancapkan Eropa, khususnya Inggris, Perancis dan Rusia di atas bumi Umat Islam Palestina, dan kemudian dirawat dan topang habis-habisan oleh AS dengan segala daya dan upaya.

Para petinggi Yahudi yakin sekali bahwa kemenangan Mujahidin Thaliban Afghanistan tidak akan berhenti di Kabul, akan tetapi, pasti berimbas ke Al-Quds dan setiap jengkal bumi Palestina, karena di sana ada Masjid Aqsha yang menjadi Kiblat pertama umat Islam, tempat mi’rojnya Rasulullah dan bumi umat Islam yang ditaklukan Umar Ibnul Khattab.

Kita Layak Belajar Dari Mereka

Kita layak belajar dari Mujahidin Afghan tentang harga diri, harga agama, harga negeri, harga dunia dan harga akhirat serta mana yang harga mati dan mana yang dapat ditawar, itupun dengan harga yang pantas (market price).

Misalnya, di Indonesia toleransi digenjot habis dan dijadikan senjata ampuh untuk memukul ulama, tokoh dan umat Islam yang kritis terhadap berbagai kezaliman yang terjadi.

Toleransi itu sesuatu yang baik. Tapi kalau berlebihan (over dosis) dan tidak sesuai konsep Islam, maka harga diri, harga negeri dan harga agama, bahkan harga akhiratpun akan jatuh nilainya dan mudah ditakar orang lain, bahkan bisa menjadi nol besar.

Apa yang dialami umat Islam Indonesia saat ini, salah satu penyebab utamanya adalah toleransi yg kebablasan dan melenceng jauh dari ajaran Islam. Kendati katanya sdh merdeka 76 tahun secara militer, namun secara akal/intelektual, ekonomi, poltik dan lainnya masih jauh panggang dari api (masih dalam jajahan).

Mari kita berdoa semoga Allah jaga Mujahidin Afghanistan dari berbagai kejahatan jin dan manusia..

Semoga umat Islam di mana saja mau belajar dari Mujahidin Afghanistan dan menyadari toleransi ala Indonesia hanya akan mengokohkan kedudukan penjajahan dalam segala bidang kehidupan, termasuk masalah agama Islam dapat diatur sesuai selera penjajah lokal, walaupun warna kulit dan bahasanya sama dengan kita.

Yaa Allah..
Jadikanlah kemenangan Mujahidin Thaliban Afghanistan sebagai langkah awal kemenangan umat Islam di seluruh dunia

Anugerahkanlah kemenangan pada umat Islam di seluruh penjuru dunia, cepat atau lambat, sebagaimana yang Engkau serukan dan janjikan :
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(Surah Muhammad : 7)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed