by

Perang Peradaban

oleh: Luki A. Sambas*

Perang peradaban atau perang budaya (dalam hal ini antara peradaban barat dan peradaban Islam) bukan sekedar akibat hipotesis Samuel Huntington (1993) yang menyebutkan setelah Uni Soviet runtuh akan ada benturan antara barat (AS dan sekutunya) dan Islam.

Teori ini sangat dipercayai oleh AS (Amerika Serikat), sehingga dibuatlah propaganda besar-besaran yang membuat Islam adalah musuh bersama, dibuatlah fitnah dan hoax bahwa Islam agama teroris, Islam penuh darah, Islam tidak menghormati wanita, dan stereotype Islam yang negatif lainnya, inilah perang pemikiran yang disebut Ghouzwul Fikr.

Skenario yang paling keji adalah tragedi Gedung WTC pada 9/11, serangan terhadap Afganistan dan penyerangan Iraq untuk menggulingkan Saddam Husein yang tidak mau tunduk kepada hegemoni barat.

Sebetulnya di Indonesia sendiri sejak zaman Snouck Hugronje (Orientalis Ciptaan Belanda) sudah memikirkan bahwa Islam sebagai agama akan menjadi batu sandungan kolonialisme Belanda, sehingga pada saat Ratu Wilhemina melakukan politik etis atau politik balas budi untuk memberikan pendidikan bagi inlander, snouck mengusulkan agar rakyat pribumi boleh diberi pendidikan tapi jangan diberi pendidikan agama, sehingga muncullah pejuang-pejuang terdidik tetapi mempunyai pemikiran sekuler yang merubah arah perjuangan bangsa ini ke arah sekuler dari sebelumnya berdasarkan agama.

Juga murid snouck hugronje, Cornelius van volenhoven yang dikenal sebagai bapak hukum adat pribumi, disinyalir penetapan hukum adat di hindia belanda sebagai dasar hukum selain hukum pidana dan perdata bikinan belanda tidak lain untuk membenturkan dengan hukum/ syariat agama Islam yang sudah melekat di masyarakat Indonesia.

Kalau dirunut lagi jauh ke belakang, akar permasalahan barat dan Islam adalah perang salib yang akan terus berlangsung sampai Nabi Isa AS turun dari langit.

Walan tardho anka al yahudu, wa laa nashoro hatta tatabi’a millatahum (QS 2:120)
“Tidak akan ridho Yahudi dan Nasrani sampai kalian mengikuti ajaran/millah mereka”

Wahai umat muslim, tidak ada hukum yg paling baik dan tepat selain hukum Allah… Demokrasi dan turunannya adalah buatan kaum sekuler barat….yang azasnya adalah pemisahan agama dari aspek kehidupan, baik itu bernegara, politik, sosial, pendidikan, dan lain-lain, apalagi ideologi komunisme yang tidak percaya akan Sang Pencipta.

Sejarah membuktikan bahwa selama Islam menguasai dunia selama hampir 13 abad, tidak ada kerusakan alam yg menyebabkan bencana alam, tidak ada kerusakan sosial yang menyebabkan dekadensi moral, gaya hidup, kualitas hubungan keluarga, sosial dan lain2. Malah kehidupan mengalami kemajuan yang luar biasa, ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, Raja-raja Eropa memohon mohon untuk menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan Islam, masyarakat hidup sejahtera, termasuk non muslim hidup tenang damai. Karena Islam menjamin kehidupan semua rakyatnya tanpa melihat ras, agama dan golongan.

Sementara barat/ kaum sekuler kapitalis menguasai dunia sejak akhir abad 17, mereka baru berkuasa baru hampir 400 tahun, hanya baru 4 abad, bahkan Amerika baru menguasai dunia baru 1 abad, tetapi kerusakan sudah sangat merata, kerusakan alam, deforestasi merajalela, sumber daya alam dieksploitasi dengan serakah, yang mengakibatkan bencana alam dimana- mana, industrialisasi pertanian dengan teknologi rekayasa genetiknya yang menimbulkan jenis hama baru dan merusak ekosistim alami dan keanekaragaman hayatinya, semuanya demi kapitalisme, petani-petani dengan modal kecil tidak akan bisa mendapatkan untung, dan mereka tidak diperbolehkan untuk membuat bibit sendiri, bibit harus beli dari industri besar, begitu pula dengan pupuk dan pestisidanya sudah merupakan satu paket lengkap agar bibit ini bisa tumbuh optimal, jika tidak menggunakan pupuk dan pestisida dari mereka bibit ini tidak akan tumbuh.

Belum kerusakan yang lebih parah adalah rusaknya tatanan moral dan sosial yang ditimbukan oleh kapitalisme, munculah liberalisme, konsumerisme, tatanan keluarga yang mengalami dekadensi termasuk moral generasi muda rusak, feminisme, free sex, lesbianisme serta gay merebak, dengan alasan HAM yang menyebabkan perceraian dimana-mana dan juga pemurtadan.

Masihkah kita mempercayai demokrasi, kapitalisme dan sekularisme dari barat, sementara kita mempunyai ideologi yang sangat agung yang langsung dari Allah, zat yang menciptakan manusia dan seluruh alam beserta isinya.

Afala taqiluuna…..maka apakah kalian berpikir?

Gerlong, 26 Rajab 1443 H

*Penulis adalah Pemerhati Agama dan Sosial, tinggal di Bandung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.