by

Proses meraih kepemimpinan ala Ibrahim (Alaihis-salaam)* Imam Shamsi Ali

Idul Adha yang kita rayakan dua hari lalu, sarat dengan makna dan nilai-nilai kehidupan yang sangat luar biasa.
Ada makna hidup dan ujian, makna ketaatan dan pengorbanan, makna soliditas mental dan kekokohan iman, sekaligus mengajarkan nilai-nilai kehidupan kolektif dan kepemimpinan.

Dan yang teristimewa dari semua itu adalah kenyataan bahwa semua ini sangat erat dengan sejarah hidup Ibrahim AS dan haji yang saat ini sedang dilaksanakan oleh jutaan umat.

Ibrahim di satu sisi memang menjadi simbol kesempurnaan dalam pengabdian dan ketaatan. Haji di sisi lain adalah ibadah yang menjadi miniatur kehidupan manusia.

Pertautan keduanya merupakan ketauladanan hidup, dalam segala aspeknya. Haji dan Ibrahim memang tidak mungkin dapat dipisahkan. Karena jika pun tidak semuanya, ragam ritual yang dilakukan dalam haji terkait dengan sejarah hidup Ibrahim.

Kita kenal bahwa Ibrahimlah yang pertama kali diperintahkan untuk mengumandangkan kewajiban haji kepada umat manusia:

واذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلي كل ضامر يأتين من كل فج عميق

“Dan kumandangkan kepada manusia (kewajiban) haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kali dan menaiki onta, datang dari berbagai penjuru yang jauh”.

Pelajaran apa saja yang didapatkan dari sejarah perjalanan hidup Ibrahim?

Tentu sangat banyak. Tapi saya akan fokus kepada tiga hal pelajaran utama.
Rasionalitas dan beragama

Pelajaran pertama dari sejarah perjalanan hidup Ibrahim adalah bahwa dalam proses menemukan keyakinan atau keimanan bukan “taken for granted”. Melainkan melalui proses panjang dan melalui ragam ujian.

Langkah awal dalam proses itu adalah maksimalilasi rasionalitas manusia untuk merespon tabiat “curiosity” atau keingin tahuan manusia. Manusia secara tabiat memiliki kecenderungan untuk tahu.

Dengan kata lain, manusia pada tabiat dasarnya cenderung mempertanyakan sebelum sampai kepada sebuah kesimpulan. Apalagi jika memang hal itu berkenaan dengan ketetapan hati.

Kisah pencarian Ibrahim untuk menemukan kebenaran diceritakan secara gamblang oleh Al-Quran, Al-A’am: 76-78.

Dimulai dengan proses nalar tentang ciptaan Allah, bintang-bintang, bulan, matahari, yang pada akhirnya Ibrahim sampai kepada kesimpulan yang tegas:

اني وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا وماانا من المشركين.

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang mencipatakan langit dan bumi, seraya menerima agama yang hanif. Dan aku bukanlah orang yang mempersekutukan Allah” (Al-An’am: 76-79).

Maka keimanan bukanlah perasaan emosi semata. Tapi sebuah kekokohan jiwa melalui cerna rasionalitas yang tajam.

Keimanan yang terbangun di atas rasa emosi semata akan melahirkan karakter keagamaan yang sempit, dan kerap berujung kepada prilaku emosional yang destruktif.

Di sinilah rahasia utama kenapa ayat-ayat pertama Al-Quran yang diwahyukan kepada baginda Rasul adalah perintah untuk memaksimalkan daya nalar. Perintah membaca: اقرأ.

Keimanan yang solid, yang digambarkan sebuah “pohon yang indah, akarnya tertanam kuat di dalam tanah, cabangnya tinggi ke atas langit ini” melahirkan kekuatan dan kedewasaan hidup.

Sementara rasionalitas di sisi lain membangun karakter kedewasaan dan sikap bijak dalam hidup.

Pelajaran kedua dari sejarah perjalanan hidup Ibrahim AS adalah bahwa hidup itu adalah sebuah “cicle” (perputaran dari satu titik ke titik yang sama). Bagaikan tawaf, berputar berkeliling dengan irama dan tujuan yang sama.

Dalam perputaran hidup itu niscaya terjadi goncangan yang sangat luar biasa. Hidup dunia ini bagaikan berlayar di tengah samudra luas. Hempasan tiada henti hingga masa berlabuh.

Untuk melalui bumpy road (perjalanan yang penuh rintangan) itu, Allah menempa hamba-hambaNya. Ujian demi ujian, ragam cobaan akan berlaku dalam hidup.

Dengan ujian itu manusia akan terbangun dalam kematangan dan soliditas mental untuk menjalani hidupnya.

Di sinilah Ibrahim AS tampil sebagai sosok tauladan yang sangat luar biasa. Ibrahim AS mengalami tempaan itu dari awal perjalanan hingga mencapai kesempurnaan kematangan hidup.

Ujian demi ujian dialaminya. Dari resistensi keluarga, kerabat dan sahabat, hingga kepada ujian kekuasaan saat itu.

Al-Quran mengisahkan rentetan peristiwa dalam hidup Ibrahim itu secara gamblang dan rinci. Satu di antaranya adalah kisah perlawanan beliau kepada kemusyrikan.

Kegigihan Ibrahim dalam perjuangan menegakkan “tauhidullah”, dihadapkan kepada resistansi yang dahsyat. Ibrahim ditangkap dan dieksekusi dengan hukuman mati, dibakar hidup-hidup.

Tapi Ibrahim semakin matang dalam iman. Ibrahim kuat dan tegar menghadapinya. Tawaran bantuan malaikat sekalipun ditampiknya, karena yakin jika hidup semuanya ada dalam satu kendali, kendali Penguasa langit dan bumi.

Karena keyakinan Ibrahim inilah Allah memerintahkan api yang menggunung itu menjadi dingin dan menyenangkan bagi Ibrahim:

يا نار كوني بردا و سلاما علي ابراهيم
“Wahai api, dinginlah dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim”.

Ibrahim diyakinkan, jika kuasa Allah pasti berlaku. Api membakar hanya dengan izinNya. Air menyejukkan hanya dengan izinNya. Ibrahim telah ditempa untuk menyikapi hidup dengan iman dan penuh tawakkal.

Dari peristiwa eksekusi Ibrahim ini ada satu catatan Indah yang ingin saya garis bawahi. Yaitu dialog yang terjadi antara Ibrahim dan raja Namrud.

Sang raja bertanya: engkaukah yang melakukan (merusak) tuhan-tuhan kami?
Ibrahim menjawab: tapi patung besar itu melakukannya. Tanya saja ke mereka.
Raja berkata: kamu tahu kalau mereka itu tidak bisa bicara.
Ibrahim berkata: lalu kenapa kamu sekalian menyembah patung-patung yang tiada memberi manfaat apa-apa?

Dialog ini mengajarkan kita tentang urgensi ketajaman logika dan kemampuan komunikasi dalam dakwah.

Dua tahun lalu seorang mahasiswi Amerika keturunan India ingin menguji logika Islam. “Kalau anda mampu memberikan sesuatu yang unik dari agamamu, saya masuk Islam”.

Singkat cerita saya katakan: “kita percaya kepada Tuhan yang satu”

Dia mengatakan: “kita juga percaya kepada Tuhan yang Satu.

Patung-patung yang anda lihat itu hanya “representasi” dari aspek-aspek ketuhanan”.

Lalu saya katakan: As an American (sebagai orang Amerika) jika anda ingin bertemu dengan presiden anda, mana yang lebih baik? Melalui sekertaris, asisten atau security? Atau langsung dan kapan saja tanpa perantara?

Jawabnya: tentu yang lebih baik adalah yang langsung tanpa antara.

Saya katakan: itulah keunikan ajaran Islam. Dalam interaksi kita dengan Tuhan, semuanya tanpa perantara”.

Dan diapun menerima Islam karena logika sederhana itu.

Kelemahan logika dan ketidak mampuan mengkomunikasikan kebenaran melahirkan da’i-da’i, ustadz-ustadz, bahkan ulama-ulama yang kerap bermain dogma, mudah menyalahkan, bahkan mengkafirkan.

Yang lebih berbahaya ketika para da’i melakukan dakwah “bolduzer”. Menghancurkan harapan hidayah. Mengusir, bukan mengajak ke jalan Allah.

Ujian demi ujian

Setelah Ibrahim dan keluarganya “settle” (menetap) di Jerusalem, ujianpun berlanjut.

Setelah sekian lama Ibrahim menikah dengan isterinya Sarah, mereka tak kunjung juga dikaruniai anak. Bahkan keduanya telah mencapai usia uzur.

Ibrahim pun semakin khawatir akan kesinambungan dakwahnya. Hal ini juga disadari oleh isterinya, Sarah, maka Ibrahim diminta olehnya untuk menikahi hamba sahaya mereka saat itu yang bernama Siti Hajar.

Dari Hajarlah Allah mengaruniakan seorang putra yang diberi nama Ismail AS. Tentu alangkah bahagianya Ibrahim dengan karunia anak yang telah lama ditunggu-tunggu itu.

Ternyata ujian besar dari Allah kembali diterimanya. Ibrahim diperintah untuk membawa anaknya yang baru lahir, Ismail bersama ibunya, Hajar, ke sebuah lembah yang tiada tumbuhan: بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرمً.

Tiada tumbuhan berarti tiada air. Tiada air berarti tiada sumber kehidupan. Tapi dengan kekokohan iman, Ibrahim meninggalkan mereka berdua tanpa siapapun dan dengan perbekalan sekedarnya di lembah itu.

Lembah itulah yang di kemudian hari kita kenal dengan Kota Suci, Makkah Al-Mukarromah.

Demikianlah, bertahun-tahun Ibrahim meninggalkan anak dan isteri tercinta. Hingga suatu ketika datanglah ujian terbesar dalam hidupnya.

Anak satu-satunya, yang lama ditunggu-tunggu kehadirannya, dan sangat disayangi itu, bahkan menjadi harapan masa depan dakwahnya, diperintahkan oleh Allah untuk disembelih.

Peristiwa ini dikisahkan dalam Al-Quran:

فلما بلغ معه السعي قال يا بني اني اري في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترا؟ قال يا أبتي افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من الصابرين.

“Maka ketika anaknya mencapai umur balig dia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi jika aku menyembelihmu. Apa pendapatmu? Sang anak menjawab: Wahai ayahku lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang bersabar”.

Tapi Allah Maha bijaksana dan Maha Kasih. Sembelihan itu diganti dengan seekor domba atau yang disebutkan dalam Al-Quran dengan: بذبح عظيم (sembelihan yang agung).

Itulah tradisi yang kita rayakan hingga hari Kiamat, melalui syariatnya Rasulullah Muhammad SAW.

Ruh udhiyah atau semangat pengorbanan sebagai komitmen iman itulah yang kita rayakan. Yang sejatinya itulah esensi ketakwaan:

لن ينالالله لحومها ولا دماءها ولكن يناله التقوي منكم

“Bukan daging atau darah yang sampai kepada Allah. Tapi ketakwaanlah yang bernilai di sisiNya”.

Dengan lulusnya Ibrahim melalui ujian terbesar tadi, Ibrahim dianggap mencapai kesempurnaan dalam ketaatan. Beliau menyempurnakan (اتمهن)perintah-perintah Allah (كلمات).

Diangkat menjadi pemimpin
Ibrahim kini matang dan siap menjalani hidup “in its excellence” (hidup terbaiknya). Maka Allah memutuskan untuk menjadikannya sebagai pemimpin:
اني جاعلك للناس اماما

“Sesungguhnya Aku mengangkatmu jadi pemimpin untuk manusia”

Kepemimpinan adalah pilar kehidupan. Karenanya semua manusia pada dasarnya adalah pemimpin dalam hidupnya. Rasulullah SAW menggambarkan hidup itu seolah gembalaan yang harus dijaga, sekaligus dipertanggung jawaban.

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

“Setiap kalian adalah gembala dan semua kalian akan diminta pertanggung jawaban tentang gembalaannya”.

Kepemimpinan tidak ada salahnya dicari. Atau dalam bahasa politik modern, ikut mengambil bagian dalam kompetisi atau kontestasi politik.

Ibrahim pun meminta itu:

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما.

“Wahai Tuhanku karuniakan kepada kami pasangan-pasangan dan anak keturunan yang menyejukkan hati. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.

Tapi kepemimpinan yang dicari, kepemimpinan yang diminta, kepemimpinan yang diperjuangkan bukan sekedar kepemimpinan. Tapi kepemimpinan yang berasaskan ketakwaan. Kepemimpinan yang membawa umatnya kepada kesalehan individu maupun kolektif.

Tiga pilar kepemimpinan Ibrahim

Secara mendasar, kepemimpinan Ibrahim AS memiliki tiga pilar atau karakteristik dasar, seperti yang digambarkan dalam Al-Quranul Karim:

وجعلنا منهم اءمةيهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون

“Dan Kami jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang berpetunjuk dengan urusan Kami, memilki kesabaran, dan mereka yakin dengan ayat-ayat Kami”.

يهدون بأمرنا berarti mereka berpegang teguh dengan nilai-nilai kebenaran. Perpegang teguh juga berarti memiliki kapasitan keilmuan dan pemahaman dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh kepemimpinannya. Bukan karena sekedar popularitas, apalagi dipaksakan.

لما صبروا berarti memiliki mentalitas baja dalam menghadapi berbagai ringangan kepemimpinan. Rintangan yang kita maksud bukan saja kesulitan-kesulitan yang ada. Tapi yang lebih penting untuk dihadapi dengan kesabaran ini adalah godaan-godaan (temptations) dalam kekuasaan. Sabar dengan kesulitan itu mudah dan wajar. Tapi sabar menghadapi godaan kekuasaan itu jauh lebih berat dan kadang terlihat aneh.

وكانوا بآياتنا يوقنون berarti yakin dan meyakinkan. Dengan kata lain kepemimpinan Ibrahim itu dibangun di atas optimisme yang kuat, serta melahirkan optimisme dan harapan bagi semua.

Satu catatan manis dalam sejarah kepemimpinan Ibrahim adalah kemauan mendengarkan aspirasi umat.

Ini tergambar dalam menyikapi perintah Allah menyembeliah anaknya. Ibrahim yakin itu perintah Allah yang tidak dapat ditawar. Tapi beliau tetap ingin mendengarkan pendapat anaknya: فانظر ماذا تري (apa pendapatmu Wahai anakku?).

Keinginan untuk mendengarkan opini orang lain, bahkan dari seorang anak sendiri yang masih remaja, dan berkenaan dengan urusan keyakinan, menjadikan Ibrahim menjadi sosok pemimpin yang ideal.

Mungkin tidaklah berlebihan jika dengan memakai bahasa politik modern, saya menyebutnya sebagai “master of democracy” (pelopor demokrasi).
Tujuan kepemimpinan

Akhirnya Al-Quran menyampaikan tiga tujuan pokok dari kepemimpinan Ibrahim AS:

واذقال ابراهيم رب اجعل هذا البلد امنا وارزق أهله من الثمرات من أمن منهم بالله واليوم الاخر قال ومن كفر امتعه قليلا ثم اضطره الي عذاب النار وبئس المصير.

“Dan ingat ketika Ibrahim berdoa: wahai Tuhan kami jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakan buah-buahan bagi penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Allah berfirman: tapi barang siapa yang ingkar maka Kami akan berikan kesenangan sesaat, lalu kami tarik mereka ke dalam api neraka, tempat kembali yang buruk”.

Dari ayat Al-Quran yang merupakan doa Ibrahim ini dipahami tiga orientasi utama dari kepemimpinan Ibrahim AS:

Pertama, Al-amnu (keamanan). Bahwa kepemimpinan itu harus mampu mencipatakan keamanan dan rasa aman bagi semua. Dengan keamanan itu akan tercipta stabilitas umum.

Kedua, Ar-Rizqu (karunia rezeki). Bahwa kepemimpinan itu harus mampu mewujudkan “kesejahteraan umum.

Ketiga, Al-adlu (keadilan). Bahwa kepemimpinan harus mampu menegakkan keadilan yang setara tanpa memihak. Kesejahteraan yang tidak adil rentang mengakibatkan ketidak amanan, dan instabilitas.

Kepemimpinan Ibrahim dalam konteks kebangsaan

Jika kepemimpinan ini kita kontekstualisasikan dalam kehidupan berbangsa kita, maka semua itu secara substantif tertuang dalam pasal-pasal di falsafah hidup berbangsa dan bernegara kita, Pancasila.

Soliditas keimanan dan kedalaman spiritualitas Ibrahim dalam kepemimpin, itu terwakili dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kesabarannya membangun kepemimpinan yang berkarakter, menaungi dan bertujuan untuk membangun kehidupan yang bermorak, Itu terwakili dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab

Sosok Ibrahim sebagai ummah qanitho (pemersatu) tertuang dalam sila Persatuan Indonesia.

Kepribadian dan akhlak kepemimpinan, yang inklusif, elegan, demokratis, itulah yang terpatri dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Sementara tujuan kepemimpinan untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan umum tersimpulkan dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Agama dan nasionalisme

Kerap kali ada yang mempertanyakan posisi nasionalisme dalam agama. Padahal dalam konteks keindonesiaan kita, agama dan nasionalisme adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Doa Ibrahim untuk penduduk Mekah adalah bentuk “cinta negeri “ (hubbub wathon). Mencintai negeri itu boleh jadi bahagian dari iman jika tidak diuntukkan untuk kepentingan sempit.

Karenanya nasionalisme selama dimaksudkan untuk kepentingan umum dalam berbangsa dan bernegara adalah bagian dari spirit Islam.

Semoga perayaan Idul Adha yang kita rayakan itu mampu membangun komitmen kepemimpinan yang berkarakter, berakhlakul karimah. Kepemimpinan yang menjunjung tinggi “rahmah”, kasih sayang dan mengedepankan “maslahah ‘aammah” atau pepentingan umum di atas kepentingan partisan.

Dengan semangat kebersamaan dan kasih sayang umat Islam di negeri ini, bersama seluruh elemen bangsa lainnya, kita bangkit dan menjadi pelopor bahkan menjadi pemimpin global dunia (imaman lin-naas).

Dan dengan semangat “تعاون علي البر والتقوي” (saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) kita bangun bersama negeri yang berkarakter Qurani:
بلدة طيبة ورب غفور.

“Negeri yang indah dengan penuh ampunan Tuhan”.

Aset bangsa

Akhirnya, perkenankan saya menekankan sekali lagi bahwa bangsa ini adalah bangsa besar.

Tapi hendaknya disadari bahwa ada dua aset besar yang menjadikan bangsa ini besar dan akan selalu besar dan menang.

Pertama, bangsa ini adalah bangsa yang optimis. Karenanya bangunlah optimisme dan harapan itu. Karena kita memiliki modal langit dan bumi untuk menang.

Bangsa kita adalah bangsa yang beragama. Itulah modal langit. Negara kita adalah negara besar dan Kaya raya. Itulah modal bumi.

Dengan modal langit dan bumi ini, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar, bahkan menjadi pemimpin global.

Karenanya jangan pernah mencoba memisahkan modal langit dan modal bumi bangsa ini. Agama dan nasionalitas, umat dan bangsa adalah darah dagingnya negeri ini.

Kedua, mari kita selalu ingat bahwa Persatuan dalam keragaman adalah aset bangsa yang mahal. Bagi umat Islam, keragaman adalah “sunnatullah” yang menjadi bagian dari akidah kita.

Karenanya menolak keragaman itu adalah penolakan kepada “hukum Allah” dalam penciptaan.

Persatuan itu kekuatan. Keragaman itu keindahan. Maka satukan kekuatan dan keindahan dalam membangun negeri tercinta.

Semoga Allah SWT menguatkn kita dalam barisan kebaikan menuju ridhoNya. Amin.

* Intisari khutbah yang disampaikan di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang, 22 Agustus 2018.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.