by

Sejenak bersama Michael Bloomberg


oleh: Shamsi Ali*

Michael Bloomberg sejak lama dikenal luas, tidak saja di Amerika, tapi juga dunia, sebagai salah seorang bisnisman yang sukses. Di tahun 2020 ini Bloomberg memiliki kekayaan sekitar 55.5 milyar US Dollar, menempati urutan kesembilan orang terkaya dunia.

Kamsyhuran Bloomberg bertambah ketika di tahun 2001 lalu, beberapa Bulan pasca serangan 9/11 di kota New York AS, beliau terpilih menjadi Walikota New York yang juga dikenal sebagai kota dunia atau Ibukota dunia.

Jauh sebelum terpilih menjadi Walikota New York beliau pernah ditanya oleh seorang wartawan. “Kalau sekiranya Engkau ditawari untuk sebuah jabatan, kira-kira mau jabatan apa?”.

Jawaban Bloomberg: “satu di antara tiga hal. Jadi Presiden Amerika atau jadi Sekjen PBB, atau jadi Waikota New York”.

Ketika ditanya ingin menjabat satu dari tiga kemungkinan itu? Beliau jawab: “Karena siapa yang menjabat posisi itu sama dengan menguasai dunia. Presiden Amerika seolah Presiden dunia. Sekjen PBB memang Kepala dari organisasi dunia. Sementara New York adalah Ibukota Dunia”.

Dengan terpilihnya sebagai Walikota New York, Michael Bloomberg seolah memenuhi keinginannya untuk menjadi Walikota dunia. Terlebih lagi bahwa di masanyalah resesi ekonomi dunia begitu kuat, akibat dari serangan 9/11 dan perang Afghanistan dan Irak.

Saya tidak membicarakan bisnis, kekayaaan, maupun posisi politiknya. Tapi yang ingin saya kemukakan kali ini adalah bagaimana relasi Bloomberg dengan Komunitas Muslim di kota New York saat itu.

Saya mungkin salah seorang yang ikut terdampak langsung oleh peristiwa 9/11 itu. Sejak awal pemerintah kota New York meminta keterlibatan saya dalam banyak perhelatan-perhelatan besar pasca peristiwa itu. Di antaranya saya adalah satu dari 9 pemumpin agama yang mendampingi Presiden Bush ketika hadir di Ground Zero pertama kali.

Tapi yang paling dikenal oleh publik adalah ketika saya diundang mewakili Komunitas Muslim di doa Nasional untuk Amerika (national prayer for America) di Yankee Stadium beberapa hari pasca 9/11.

Di sanalah terbuka pintu luas untuk mengenal dan dikenal luas oleh Walikota New York ketika itu. Apalagi memang pejabat di Amerika ini tidak terlalu penuh dengan aturan protokol yang kadang kaku.

Maka ada masa-masa di mana sang Walikota melibatkan saya sebagai Wakil Komunitas saat itu. Khususnya sebagai salah seorang Imam di masjid terbesar kota New York; Islamic Cultural Center of New York (lebih dikenal dg 96th Street Mosque).

Tentu terlalu panjang untuk menyebutkan semuanya. Tapi saya pilih beberapa yang saya pribadi anggap sangat berkesan dan punya makna yang dalam bagi perjuangan Komunitas Muslim di kota New York.

Too much Smokes!

Beberapa setelah beliau dilantik sebagai walikota, di awal tahun 2002, kami (tokoh-tokoh agama) diundang dalam sebuah pertemuan sarapan pagi (breakfast meeting) di aula perpustakaan New York di 42nd Street.

Entah kenapa, saya disapa oleh Bloomberg: “Are an Indonesian?” Ketika saya jawab “yes Mr. Mayor”.

Beliau menjabat erat tangan saya dan berkata: “I like Indonesia. A great country”. Lalu saya bercanda: “Have you been to Indonesia?”. Sambil tertawa beliau menjawab: “I would love to. But too much smokes” (saya mau. Tapi terlalu banyak asap”.

Terus terang saya bangga. Tapi sekaligus agak tersinggung. Kendati saya juga sadar bahwa apa yang beliau sampaikan itu ada benarnya. Smokes bukan sekedar karena kebakaran hutan. Tapi juga peròkok ada di mana-mana, bahkan di terminal-terminal pesawat (bandara) sekalipun.

Thank you, but I am not a practicing!

Di suatu hari lebaran, saya lupa apakah itu Idul Fitri atau Idul Adha, tiba-tiba saya dapat telpon dari nomor “unknown” (tidak ada ID). Saya angkat dan tiba-tiba suara seberang itu memberikan salam yang terbata-bata: “aasalaamu laikum”. Tapi tetap saya jawab: wa alaikum as-salam”.

Orang tersebut mengenalkan diri: “Imam, this is Mike. Happy Eid!”.

Awalnya saya tidak ingat, atau juga tidak percaya kalau Yang menelpon untuk sekedar menyampaikan ucapan selamat lebaran itu adalah Michael Bloomberg, Walikota New York yang kaya raya, dan seorang Yahudi pula.

Ketika saya diam sejenak, beliau menyambung: “it’s me, Mayor Bloomberg”.

Saya baru sadar bahwa ternyata benar yang menelpon saya adalah Walikota dunia. Tiba-tiba saya teringat, Jika Minggu itu juga bersamaan dengan salah satu hari besar Yahudi, kalau tidak salah Hanukkah. Maka saya membalas ucapannya dengan: “Happy Holiday to you, Mr. Mayor!”.

Tiba-tiba saja dari seberang kedengaran tawa sambil berkata: “Thank you. But I am not a practicing. I am not a religious”. (Terima kasih. Tapi saya bukan orang yang mempraktekkan agama dan bukan orang agamis).

Saya kemudian tersadarkan bahwa ternyata kehebatan Yahudi itu walau secara agama tidak terlalu berkomitmen, namun ketika sampai kepada solidaritas sesama sangat luar biasa. Saya ketika itu hanya berdoa: semoga suatu ketika Umat ini kembali kepada ikhuwah yang sejati.

You are the only clergy on the table!

Hal lain yang saya ingat tentang Bloomberg adalah ketika akan maju untuk periode ketiga (3rd term) sebagai walikota. Kita kenal bahwa di Amerika jabatan eksekutif itu hanya dua priode. Termasuk jabatan Walikota New York.

Tapi Bloomberg merasa kota New York dan dunia yang saat itu sedang menghadapi resesi perekonoman gobal perlu melanjutkan satu periode lagi. Dan Karenanya ada beberapa hal yang beliau lakukan. Selain meyakinkan DPRD New York untuk merubah UU New York, juga melakukan pendekatan ke masyarakat kota New York.

Satu hal yang perlu kita ingat akan kehebatan Bloomberg sebagai politisi, khususnya dalam konteks New York, adalah bahwa beliau berpindah-pindah partai dari Republican, lalu ke Demokrat, dan di saat maju di periode ketiga Michael Bloomberg maju sebagai independen. Dan ketiganya dimenangkan.

Suatu malam Saya diundang bersama beberapa tokoh warga New York dari semua segmen masyarakat untuk sebuah acara makan malam. Ada tokoh pendidikan, artis, pebisnis, budaya, pemuda, dan tentunya agama. Ternyata sayalah yang diundang mewakili komunitas agama. Artinya semua agama-agama. Bukan hanya mewakili komunitas Muslim.

Ketika acara makan malam dimulai, sayalah yang diminta sang Walikota untuk membacakan doa. Tentu saya berbasa basi agar yang memimpin yang lain saja. Tapi beliau tetap meminta dan mengatakan: “you are the only clergy in the room”. Semua yang ada tertawa…

I am supporting my Constitution and Value!

Dari sekian memori tentang Michael Bloomberg itu, hal yang mungkin paling saya apresiasi dan tidak akan saya lupakan adalah ketika terjadi kontroversi besar rencana pembangunan masjid dekat Ground Zero. Kebetulan saja saya memang dilibatkan oleh Br. Sharif El-Gamal, pemilik proyek itu dalam usaha tersebut.

Karena djadikan alat politik oleh sebagian poltisi, dan di blow up oleh media, 70 persen kota New York menolak proyek pembangunan itu. Di mana-mana terjadi demo menentang rencana itu. Tapi dengan tegas sang Walikota justeru mendukung rencana itu.

Bahkan ketika mendeklarasikan dukungan itu beliau mengadakan konferensi pers di pulau Ellis (Ellis Island), sebuah pulau kecil tempat mendarat para immigran pertama yang datang ke kota New York. Dengan berlatar belakang patung Liberty, Michael Bloomberg dengan tegas menyampaikan dukungan untuk pembangunan masjid dekat Ground Zero itu. Dan saya kembali diundang mewakili komunitas Muslim di acara tersebut.

Yang saya ingin sampaikan adalah dalam sebuah acara buka puasa bersama di Gracie Mansion (kediaman resmi Walikota NY) saya satu meja dengan beliau. Saya tiba-tiba saja bertanya kepada beliau: “Mr. Mayor, apa alasan anda mendukung proyek pembangunan masjid itu? Padahal mayoritas penduduk anda menolak”.

Jawaban beliau sangat tegas: “Saya tidak mendukung masjidnya. Juga bukan Karena mendukung orang Islam. Tapi saya mempertahankan Konstitusi dan nilai-nilai (values) yang saya banggakan”.

Saya tiba-tiba tersadarkan bahwa menjadi Pemimpin publik itu standarnya adalah Konstitusi. Konstitusilah yang harus jadi “raja” dalam mengambil langkah keputusan publik itu. Bukan emosi, apalagi kepentingan pribadi atau golongan.

Terlalu banyak kenangan baik bersama Bloomberg. Tapi ada juga kenangan yang cukup mengganjal. Salah satunya adalah bahwa di masanyalah terjadi apa yang disebut “Muslim Surveillance” atau memata-matai Komunitas Muslim dengan kamera.

Pelajaran penting yang saya ambil ketika itu adalah urgensi membangun keseimbangan dalam menyikapi semua permasalahan yang berkembang. Di satu sisi menjaga hal-hal positif. Tapi di sisi lain tetap mengkritisi hal-hal yang dianggap tidak sesuai dan tidak sejalan dengan Konstitusi dan nilai-nilai Amerika itu sendiri.

Satu hal yang saya jaga ketika itu hingga sekarang adalah relasi antara Komunitas Muslim dengan Kepolisian kota New York. Pertimbangan saya sederhana. Ada sekitar 1400 anggota Kepolisian yang beragama Islam. Dan Karenanya saya menjadi salah seorang “Clergy Liaison” untuk Kepolisian New York.

Sayang kehebatan seorang Bloomberg belum berhasil menembus dinding-dinding politik nasional Amerika. Sang Billioner pun gagal menjadi kandidat Presiden dari Partai Demokrat di tahun 2020 ini.

Mr. Mayor, life must go on!

  • a New Yorker-Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed